Tgl Penyerahan : 22/10/17
Nama : Ajeng Umaroh
Utusan : PC NU. KAB BOGOR
Kelompok : IV
Mata Kuliah : GS
Dosen : Prof Yudi Haryono
Tugas : Resume
Tgl Materi : 14/10/17
_________________________________________________________________________________
-
Gagasan bisa menembus ruang dan waktu
-
Nabi Muhammad adalah seorang yang mempunyai gagasan
yang agung
-
Islam asli di bawa Nabi Muhammad atas perintah
Allah (Fundamentalis)
-
Islam adalah perkumpulan nilai yang di ramu sehingga
menjadi konsep
Solusi Perubahan
-
Menciptakan gagasan
-
Merevitalisasi di zaman milenial
-
Memertahankan gagasan yang lama
-
Menciptakan gagasan yang baru
Peradaban Romawi
1.
Tidak ada kebenaran kecuali (Gereja)
2.
Tidak ada kebenaran kecuali (Yesus)
3.
Tidak ada kebenaran kecuali (Rabi)
-
Pengetahuan sumbernya bisa di dapat dari mana saja
-
Insan yang tidak punya gagasan = (abu jahal)
-
Insan yang tidak punya gagasan jiwa pemimpin = (abu
lahab)
5 mental orang Indonesia yang diwariskan
oleh orang asing
-
Melupa
-
Mendendam
-
Miopik
-
Inlanden
-
Instan
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Tgl Penyerahan : 22/10/17
Nama :
Ajeng Umaroh
Utusan :
PC NU. KAB BOGOR
Kelompok :
IV
Mata Kuliah : Ulumul Hadist
Dosen :
KH. Sanusi Azhari
Tugas :
Resume
Tgl Materi : 14/10/17
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
NASEHAT
BEKAL KE AKHIRAT
Sebagaimana hadist Nabi SAW. Yang
artinya:
1.
Perbaharuilah perahumu karena lautan itu sangat luas
2.
Carilah perbekalan yang lengkap karena perjalanan
itu sangat jauh
3.
Kurangilah beban karena sangat sulit untuk diatasi
4.
Ikhlaskan dalam beramal karena yang menilai baik dan
buruk adalah dzat yang maha melihat.
TENTANG
RIYA (PAMER)
Ria adalah meampakkan
diri kepada orang lain supaya diketahui kehebatannya dan kebaikannya atau amal
dan perjuangannya baik melalui pembicaraanya tulisannya atau sikapnya dengan
tujuan supaya mendapat pujian. Ciri – ciri dan bahaya dari riya sebagai mana
disebutkan dalam Firman Allah SWT (Surat Al – Maun ayat 4 s/d 7) yang artinya
“maka celakalah bagi orang yang Sholat (yaitu) orang – orang yang lalai dari
Sholatnya, orang – orang yang berbuat riya, dan enggan menolong dengan barang
berguna.
Allah juga berfirman
dalam surat Albaqoroh ayat 364 yang artinya “hai orang – orang yang beriman
janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu, dengan menyebut-nyebutnya dan
menyakiti perasaan penerima seperti orang – orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada
manusia”
Di dalam hadis Nabi
Muhammad SAW bersabda yang artinya “sesuatu yang paling aku kuatirkan di antara
kamu itu adalah syirik kecil lalu di tanyakan oleh sahabat apakah syirik kecil
itu ya Rosulullah kemudian beliau menjawab syirik kecil itu adalah riya”. _________________________________________________________________________________
Tgl Penyerahan : 22/10/17
Nama : Ajeng Umaroh
Utusan : PC NU. KAB BOGOR
Kelompok : IV
Mata Kuliah : Bidayatul Mujtahid
Dosen : KH. Makmur Zawawi
Tugas : Resume
Tgl Materi : 14/10/17
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
SHOLAT JUMAT
-
Sholat Jumat (harus berkumpul)
-
Sholat Jumat minimal tiga sampai empat orang menurut
mazhab imam Abu Anifah
-
Sholat Jumat minimal 40 orang menurut mazhab imam
Syafi’i
-
Adzan awal Sholat Jumat untuk memanggil orang
diadakan pada tahun 5 Hijriah.
-
Perempuan dan musafir tidak masuk hitungan jumah.
-
Waktu Sholat jumat menurut ulama Jumbur adalah waktu
Dzuhur.
-
Kalau waktu shalat jumat sudah habis, dilaksanakan
sholat Dzuhur
-
Tidak boleh melaksanakan sholat jumah sebelum
tergelincirnya matahari
-
Adzan Sholat jumat jaman Rosulullah 2 kali
-
Dalam kedudukanya Adzan lebih tinggi dari pada
iqomah
-
Yang kothbah diutamakan jadi imam
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tgl Penyerahan : 22/10/17
Nama : Ajeng Umaroh
Utusan : PC NU. KAB BOGOR
Kelompok : IV
Mata Kuliah : Masail Fiqhiya
Dosen : KH. Dr Amin Zainudin
Tugas : Resume
Tgl Materi : 14/10/17
RASIONALITAS DALAM
SYARI’AT ISLAM
Apapun yang ditetapkan
Allah Swt kepada makhluknya, termasuk manusia, semua bermuara bagi kemaslahatan
hidup manusia. Setiap yang Allah Swt perintahkan untuk dilaksanakan, pasti
bermanfaat bagi yang melaksanakannya. Sebaliknya setiap yang dilarang pasti mengandung
madhorot bagi yang melaksanakannya.
Walaupun beragama
dengan segala aspeknya sangat rasional, tetapi tidak semua ketetapan dalam
agama bersifat rasional. Dan ini terjadi pada semua agama. Termasuk Islam.
Dimana tidak semua ketetapan dari Allah Swt baik yang berupa perintah atau
larangan itu dapat dicerna oleh akal manusia. Ada yang dapat dicerna oleh akal
(Ta’aqquly) dan ada pula yang tidak dapat dicerna. Terkesan tidak rasional
(Ta’abbudy)
Para Ushuli (ahli ushul
fiqh) menyebut ketetapan yang tidak dapat di cerna oleh akal itu “ta’abbudy”.
Syaikh Zakariyya al – anshari berkata menjelaskan difinisi ta’abbudy menurut
ushuliyyun : “ketetapan yang bersifat ta’abbudi adalah ketetapan hukum yang
tidak jelas illatnya walaupun hikmahnya jelas.”
Contohnya adalah
keharusan mencuci bekas jilatan anjing sebanyak tujuh kali basuhan yang mana
salah satunya harus di campur dengan debu. Pertanyaan yang mengemuka dan tidak
mendapat jawaban yang rasional adalah: “mengapa harus 7 kali basuhan dan
mengapa pula salah satu dari 7 basuhannya dicampur dengan debu? Serta apakah
boleh mengganti debu dengan media pembersih yang lain, yang lebih praktis dan
higienis?
Secara rasional,
walaupun mencuci bekas jilatan tidak dibasuh sebanyak 7 kali tetapi menggunakan
sabu serta anti septic, tentu hasilnya lebih bersih dan higienis. Tetapi karena
ketetapan syara’ bersifat ta’abbudy, maka ketentuan membasuh bekasjilatan
anjing sebanyak 7 kali yang salah satu basuhannya di campur dengan debu tetap
tidak boleh diabaikan. Imam malik berkata terkait dengan hal ini.
Contoh lainnya adalah
mengusap sepatu sebagai ganti membasuk kaki. Banyak hadist yang meriwayatkan
hal ini dilakukan oleh Nabi Saw.
Secara rasional, bagian
sepatu yang paling harus diusap adalah yang bawah. Karena bagian bawah sepatu
lah bersentuhan langsung dengan tanah. Bukan bagian atas. Tetapi ternyata
Rosulullah Saw selaku Syar’I mengusap bagian atas sepatu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar