Jumat, 20 Oktober 2017

REFLEKSI MINGGU KE-12_HMS. HABIBY MUI CISARUA

Tidak ada komentar:
Tanggal Penyerahan : 7 Oktober 2017      
Nama : H. MUHAMMAD SYUKRON HABIBY
Utusan : MUI Kecamatan CISARUA
Mata Kuliah : -
Dosen : -
Jenis Tugas : REFLEKSI
Tanggal Materi : 30 September 2017



3 Faktor Gagal Bisnis

Sebagai mahluk yang diciptakan Allah untuk mengelola isi bumi, dalam istilah lain sebagai “khalifatu fil ard”, maka penguasaan keilmuan dan praktek ekonomi sangat penting, dalam hal ini penguasaan bisnis atau dalam istilah agama disebut muamalah.
bisnis tentunya beragam, mulai dari pertanian (include perkebunan, peternakan, perikanan), perniagaan (perdagangan dan jasa) hingga manufacturing industry. Kesemuanya tentu bermuara pada satu tujuan, yakni profitabilitas bisnis dalam rangka menuju kesejahteraan ekonomi.
Namun, tidak jarang kita mendengar bisnis yang gagal. Bahkan terdapat adagium, “dari 100 bisnis yang diciptakan beresiko 99 yang gagal”. Artinya, resiko berbisnis adalah kegagalan itu sendiri.
Tidak banyak yang mengeksplorasi atas kegagalan bisnis tersebut, bahkan rata-rata awam lebih cenderung menyalahkan Modal sebagai sosok penentu kegagalan berbisnis. Padahal modal adalah bukan faktor utama dalam berbisnis, bahkan dalam konteks milenial, modal datang dengan sendirinya kala ide telah mampu terkuantifikasi dalam berjalannya sebuah bisnis.
Menurut penulis, terdapat 3 faktor seseorang gagal dalam berbisnis, yakni salah pilih, salah hitung dan salah urus.
Pertama, salah pilih. Seorang pebisnis dalam memulai bisnis harus mampu menentukan bisnis apa yg akan dipilih sebagai bisnis yang menjanjikan. Memilih bisnis tidak sekedar mengikuti trend market, lebih dari itu bisnis yang dipilih haruslah bisnis yang memiliki masa depan, bisnis yang memiliki ketahanan.
Kedua, salah hitung. Seringkali seseorang dalam berbisnis terjebak pada pengelolaan modal. terlebh bila modal tersebut merupakan pinjaman dari lembaga keuangan semacam Bank, dimana ada kewajiban selain mengembalikan pokok hutang juga tentu margin/bagi hasil yang wajib dibayarkan sesuai waktu yang ditentukan. Salah dalam menghitung kebutuhan modal akan berakibat fatal. Begitu juga ketika salah dalam menghitung pendistribusian, yakni salah dalam tata kelola keuangan, maka kebangkrutan bisnis tinggal menunggu waktu.
Ketiga, salah urus. Managemen bisnis mutlak diperlukan. Salah mengelola bisnis layaknya salah mengelola rumah tangga. Bisnis yang baik harus dikelola “on Track Vision”, yakni menjaga jalannya roda bisnis dalam koridor visi perusahaan.  Tata kelola bisnis termasuk didalamnya pengelolaan SDM, mutlak diperlukan. Mengurus manusia menjadi kunci keberhasilan managemen bisnis. Manusia-manusia yang kompeten dan berintegritas akan mengalirkan energi positif bagi bisnis yang tegah dijalankan.

terkahir, berbisnis adalah ajaran rosulullah. Rosul dalam berbisnis tidak pernah sekalipun merugi. Keberhasilan bisnis yang dibangun bukan karena kesaktian dan sifat kenabian yang dominan, namun kemampuan managemen bisnis Rosulullah yang baik dan terukur. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
back to top