Sabtu, 30 September 2017

REFLEKSI MINGGU KE-11_AJENG UMARO PCNU KAB. BOGOR

Tidak ada komentar:
Tanggal penyerahan resume : 30 September 2017
Nama                           : Ajeng Umaroh,S.Pdi
Utusan                         : PCNU Kabupaten Bogor
Kelompok                   : IV (Empat)
Mata Kuliah                : Refleksi
Tanggal Materi            : 23 September 2017
Alhamdulillah Ya Allah hamba masih dikasih kesempatan untuk dapat menikmati karuniamu yang terindah dan ternikmat di alam jagat raya ciptaan mu. Hammba juga masih dikasih kesehatan dan keberkahan sehingga dapat mengikuti perkuliahan PKU XI, kembali lagi di kampus Dharmais yang suasananya cukup nyaman tentu tempat belajar dan berinteraksi dengan sahabat dari berbagai kecamatan yang ada di kabupaten Bogor yang tetap “TEGAR BERIMAN” ditahun 1439 H ini hamba masih banyak melakukan kesalahan dan kehilafan untuk menunaikan perintahmu dan menjauhi laranganmu Ya Allah.
YA Rabb hamba masih belum dapat memposisikan diri sebagai insan yang bertakwa karena menjadi manusia yang bertakwa harus mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1.      Beriman kepada yang gaib
2.      Selalu melaksanakan sholat
3.      Selalu berinfaq
4.      Mengimani Al-Quran dan Al Kitab samawi sebelumnya
5.      Meyakini hari akhirat

Kelima sifat ini mencakup masalah akidah, syariat dan hubungan horizontal dengan sesama manusia. Betapa bahagianya andaikan hamba dapat memenuhi dan mengkondisikan lima ciri-ciri tersebut. 

RESUME MINGGU KE-11_AJENG UMARO PCNU KAB. BOGOR

Tidak ada komentar:
Tanggal penyerahan resume : 30 September 2017
Nama                           : Ajeng Umaroh,S.Pd, I
Utusan                         : PCNU Kabupaten Bogor
Kelompok                   : IV (Empat)
Mata Kuliah                : Tasawuf
Dosen                          : KH. Khusnudin  
Tugas                           : Resume
Tanggal Materi            : 23 September 2017

-          Sumber segala maksiat, lalai dan sahwat adalah atas dorongan hawa nafsu
-          Menjaga kehormatan diri dan bertemannya dengan orang bodoh yang tidak mengikuti hawa nafsu lebih baik dari pada berteman dengan orang alim yang mengikuti hawa nafsu
-          Janganlah kau berkebutuhan kepada selain Allah karena Allah lah yang mendatangkan kebutuhan kepadamu (hajat)
-          Bagaimana mungkin selain Allah akan memenuhi hajatmu dialah Allah yang meletakan hajat itu orang yang tidak mampu memenuhi hajatnya maka bagaimana dia akan mampu menyelesaikan problemetika orang lain
-          Jika kamu tidak dapat berbaik sangka kepada Allah karena semata-mata sifatnya maka berbaiksangkalah kamu kepada Allah karena Dia sudah memperlakukan kamu dengan sebaik-baiknya, tidaklah Allah memberimu kecuali kebaikan. Jangan bersahabat dengan orang yang berperilaku tidak membangkitkan untuk kita beribadah kepada Allah
-          Kadang-kadang engkau orang-orang yang berbuat jahat bahwa dia baik persahabatannya maka bolehlah dia dijadikan sahabat. amal yang baik adalah produk dari keberadaan hati yang baik dan keadaan hati yang baik adalah karena dari Allah jangan kau tinggalkan zikir dengan tidak hadirnya Allah bersamamu karena lalimu tidak berdzikir lebih baik dari pada kamu sedang berdzikir. Maka bisa jadi Allah mengangkatmu dari dzikir dan lalai dari dzikir dan lalai kepada Allah dengan penuh kesadaran kepada dzikir dengan dihadiri Allah dan dzikir yang dihadiri Allah kepada dzikir yang puncak.

===========================================================================

Tanggal penyerahan resume : 30 September 2017
Nama                           : Ajeng Umaroh,S.Pdi
Utusan                         : PCNU Kabupaten Bogor
Kelompok                   : IV (Empat)
Mata Kuliah                : Ulumul Hadits
Dosen                          : KH. Sanusi Az Hari 
Tugas                           : Resume
Tanggal Materi            : 23 September 2017
Nama – nama perawih hadits beserta tahun lahir dan tahun wafatnya
-          Imam Malik lahir tahun 95 H wafat tahun 179 H
-          Imam bukhori lahir tahun 194 H wafat tahun 256 H
-          Imam muslim lahir tahun 204 H wafat tahun 261 H
-          Imam Abidaud lahir tahun 204 H wafat tahun 275 H
-          Imam Tirmidzi lahir tahun 209 H wafat tahun 279 H
-          Imam Abi Abdurrahman (Ana Sa’i) lahir tahun 215 H wafat tahun 303 H
-          Imam Ibnu Majah lahir tahun 207 H wafat tahun 275 H

Hadits Kudsi

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Ra;uluilah saw bersabda : "Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat yang mondar mandir di jalan mencari ahli dzikir. Apabila mereka mendapat kaum yang sedang berdzikir kepada Allah mereka memanggil-manggil : "Marilah kepada keperluanmu". Beliau bersabda : "Malaikat itu mengitari dengan sayap mereka ke langit dunia. Beliau bersabda : Tuhan mereka berfirman pada hal Dia lebih mengetahui tentang mereka : "Apakah yang diucapkan oleh para hambaKu?". Beliau bersabda : Malaikat menjawab : "Mereka sedang me Maha Sucikan Mu, me Maha Besarkan Mu, memujiMu dan me Maha Muliakan Mu". Tuhan berfirman : "Apakah mereka melihat Ku?". Beliau bersabda : "Mereka menjawab : "Tidak, demi Allah mereka tidak melihatMu". Beliau bersabda : "Tuhan berfirman : "Bagaimana seandainya mereka melihatKu?". Beliau bersabda : "Mereka menjawab: "Seandainya mereka melihatMu, niscaya mereka lebih beribadah kepadaMu, lebih memuliakan, lebih memuji dan lebih mensucikanMu". Beliau bersabda : Tuhan berfirman : "Apakah yang mereka pinta kepadaKu?". Beliau bersabda : "Mereka meminta surga kepada Mu". Beliau bersabda : "Mereka menjawab : "Apakah mereka melihatnya?" Beliau bersabda : Malaikat menjawab : "Tidak, demi Allah mereka tidak melihatnya". Tuhan berfirman : "Bagaimanakah seandainya mereka melihatnya ?". Beliau bersabda : "Mereka menjawab : "Seandainya mereka melihatnya, niscaya mereka lebih loba terhadapnya, lebih meminta dan lebih gemar terhadapnya". Tuhan berfirman : "Terhadap apa mereka berlindung ?". Beliau bersabda : Malaikat menjawab : "Dari neraka". Beliau bersabda : Tuhan berfirman: "Apakah mereka melihatnya ?". Beliau bersabda : "Mereka menjawab : "Tidak, demi Allah wahai Tuhan, mereka tidak melihatnya". Beliau bersabda : Tuhan berfirman : "Bagaimanakah seandainya mereka melihatnya ?". Beliau bersabda" : Mereka menjawab : "Seandainya mereka melihatnya, niscaya mereka lebih sangat lari dan sangat takut". Beliau bersabda : "Tuhan berfirman : "Aku persaksikan kepadamu bahwa Aku telah mengampuni mereka". Beliau bersabda : "Salah satu malaikat berkata: "Diantara mereka ada Fulan yang bukan dari golongan mereka. Kedatanganya hanya karena ada keperluan". Tuhan berfirman : "Mereka teman-teman duduk, dimana orang yang duduk bersama mereka tidak celaka".


========================================================================



Tanggal penyerahan resume : 30 September 2017
Nama                           : Ajeng Umaroh,S.Pdi
Utusan                         : PCNU Kabupaten Bogor
Kelompok                   : IV (Empat)
Mata Kuliah                : GS
Dosen                          : KH. Didin Khafidhuddin
Tugas                           : Resume
Tanggal Materi            : 23 September 2017
-          Ulama adalah seseorang atau sekelompok orang ‘Alim yang memiliki ilmu pengetahuan Agama Islam yang mendalam (Mutafiqqih fid dien) tempat bertanya umat tentang berbagai persoalan agama dan kehidupan. Karena itu ulama selalu dekat dengan umat, memberikan pengajaran dan bimbingan, termasuk menjadi contoh dan suri tauladan yang baik bagi masyarakat. Allag SWT berfirman dalam QS. At-Taubah (9) ayat 122 yang artinya :

“ Tidak sepatutnya bagi orang-orang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya “ (QS At-Taubah (9) : 122)

-          “ Dan demikian  (pula) diantara manusia, binatang-binatang melata dan binatang – binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya dan (jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambanya hanyalah ulama. Sesunggunya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun “ (QS. Fathir (35) : 28)

-          “ Adil itu adalah perbuatan yang baik, dan bagi para pejabat itu sungguh lebih baik. Kepemurahan itu adalah baik, dan bagi orang kaya itu jauh lebih baik. Teliti dan hati-hati adalah baik, dan bagi para ulama jauh lebih baik. Sabar itu baik dan bagi orang-orang fakir jauh lebih baik. Taubat itu adalah baik, dan bagi para pemuda itu jauh lebih baik. Malu itu adalah baik dan bagi perempuan itu jauh lebih baik “ (HR. Ad-Dailamiy dari Umar )

-          Salah satu tugas utama sekaligus mulia dari para alim ulama adalah melaksanakan tugas amarmekruf nahyi munkar, Mengajak mempelopori dan memberi contoh hidup yang baik yang sejalan dengan ketentuan agama pada segenap masyarakat termasuk mengajak umat dan bangsa untuk selalu mencintai dan membangun bangsa dan negara. Sekaligus mencegah perbuatan – perbuatan buruk dan merusak yang akann menghancurkan dan memecah belah NKRI

-          Tercatat para ulama dan para kyai, pimpinan pondok pesantren yang terlibat aktif dalam perjuangan merebut kemerdekaan selain Soekarno dan Hatta adalah Jendral Soedirman, KH. Ahmad Sanusi, Ki bagus Hadi Kusumo, KH. Wahid Hasyim, Haji Agus Salim, KH. Soleh Iskandar, KH. Nur Alie Bekasi , KH. Koer Affandy Tasikmalaya, dan KH. Zainul Mustofa , KH, Masykur, Buya Hamka, Moh, Natsir, Prof. Dr. Kasman Singodimejo, Mr. Moch Roem, KH. Hasan Bangil, Mr. Syafrudin Prawiranegara, Bung Tomo, dll.

-          Allah berfirman dalam QS. Al Hujurat (49) ayat 13 yang artinya :

“ Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersekutu-sekutu supaya saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa dianyara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Al Hujurat (49) : 13 )

-          Disamping mempertahankan dan membangun NKRI ke arah yang lebih baik dan lebih sejahtera, para alim ulama dan tokoh ummat memiliki kewajiban untuk menjaga NKRI ini dari ide dan paham (yang sering dikaitkan dengan agama ) yang menyesatkan.

-          Sebagaimana firman – Nya dalam QS Al Baqarah (2) ayat 201 yang artinya :

“ Dan diantara mereka ada yang berdoa “ Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan peliharalah kami dari sisksa neraka “ (QS Al Baqarah (2) : 201)

-          Radikalisme agama yaitu paham yang hanya melihat sebagian saja dari ini kitab suci seperti perintah memerangi orang kafir sambil mengabaikan ayat yang lain, yang memerintahkan umat Islam untuk berkasih sayang dengan sesama umat manusia, walaupun berbeda agama.

-          Dalam firman-Nya yang artinya :
“ Dan pergilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas “ (QS.Al Baqarah (2) : 190 )

-          Komunisme (PKI) adalah ajaran kemasyarakatan (komunal) yang verlandaskan ateisme/ anti Tuhan (dalam pengakuannya). Ajaran ini sangat membahayakan umat beragama, terutama Islam. Mereka (PKI) telah menghianati NKRI dua kali melakukan pemberontakan yang mengorbankan ribuan jiwa bangsa Indonesia (1948 dan 1965).

-          Paham-paham keagamaan sangat membahayakan NKRI dan ahli sunnah wal jamaah (ASWAJA). Firman Allah dalam QS An Nisa (4) ayat 59 dan hadits Nabi SAW. :

“ Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya) dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih baik akibatnya “ (QS An Nisa (4) : 59)

“Rasulullah Saw Bersabda : “ (Ada) dua golongan umat manusa, jika kedua golongan itu baik maka akan baik semua hal, jika kedua golongan itu jelek, maka akan jelek semua hal. Kedua golongan tersebut adalah Ulama dan Pemimpin “ (HR Ahmad dari Abu Hurairah)



Jumat, 29 September 2017

REFLEKSI MINGGU KE-11_HMS. HABIBY MUI CISARUA

Tidak ada komentar:
Tanggal Penyerahan : 30 September 2017        
Nama : H. MUHAMMAD SYUKRON HABIBY
Utusan : MUI Kecamatan CISARUA
Mata Kuliah : -
Dosen : -
Jenis Tugas : REFLEKSI
Tanggal Materi : 23 September 2017



JADILAH MANUSIA WAJAR

Sebagai mahluk sosial, manusia tidak akan terlepas dari kehidupan bermasyarakat. kecenderungan manusia adalah akan hidup berkelompok, membangun keluarga, membangun komunitas, atau dalam lingkup yang lebih besar adalah membangun kesepakatan kebangsaan dalam bingkai negara.
Manusia tentu memiliki cara pandang/ perspektif yang beragam atas fenomena atau peristiwa yang tengah terjadi. Karena itulah ke-khasan manusia, memiliki akal dan kecenderungan yang tidak mungkin bisa seragam.
Akhir-akhir ini kita saksikan perdebatan atas issue hangat yang tengah mengemuka, yakni anggapan akan terjadi “kebangkitan PKI” dan ajaran komunisme di negeri ini. Tokoh-tokoh nasional mulai dari tokoh agama, kalangan budayawan, sejarawan, bahkan politisi angkat bicara. Tidak hanya itu, perbincangan bahkan perdebatan sengit juga tampakpada group-group Whatsapp dan medsos semacam facebook dan twitter. Entah referensi yang digunakan terukur atau hoax, menjadi tidak penting. Bagi penyebar dan penikmat group WA tersebut, lebih penting menuruti rasa suka dan tidak suka daripada meneliti validitas informasi.
Tampak nyata masyarakat mulai terbelah, setidaknya antara yang Pro atas pendapat kebangkitan PKI dan pihak yang merasa tidak perlu mengkhawatirkan kebangkitan PKI.
Issue itu lalu dikaitkan dengan kontroversi pidato Panglima TNI yang menceritakan 5000 senjata ilegal dihadapan para purnawirawan, walaupun belakangan telah diklarifikasi. Entah hal apa yang bisa mengkaitkan kedua peristiwa tersebut, bagi pengelola issue semua menjadi bisa. Namun, spekulasi telah sedemikian liar di masyarakat. Ada yang mengkaitkan Panglima sedang membocorkan rahasia negara, ada juga yang menganggap informasi Panglima tidak valid, bahkan ada yang menganggap Panglima sedang melakukan akrobatik politik dan dituduh “nggege mangsa” [tidak sabar] menyambut perhelatan 2019, yakni pilpres.
Kita termasuk ke dalam golongan yang mana? entahlah, sikap kita tentu beragam. Namun, bukankah kita ini dijadikan manusia untuk menjaga titik keseimbagan dengan (salah satunya) bersikap wajar atas setiap peristiwa? kalau dunia ini tidak butuh sikap-sikap wajar, tentulah bukan manusia yang memimpin bumi ini, mungkin binatang saja cukup.
Kewajaran kita adalah dengan melihat lebih luas konteks atas setiap peristiwa. Tidak akan pernah ada sebuah informasi tanpa maksud dibaliknya. Oleh karena itu, setiap informasi akan mengandung maksud dan tujuan dari para penyebar informasinya. Bisa tujuan moral, dakwah, atau bahkan pesan destruktif yang bertujuan merusak tatanan, entah dengan bingkai politik atau bahkan bingkai agama.
Maka, menjadi penting bagi kita untuk menjadi manusia wajar, yakni bersikap normal dan berlaku objektif atas setiap fenomena dan peristiwa yang tengah terjadi. Jangan pernah menjadi kompor bahkan sekedar menjadi bara dan minyaknya.[]


 
back to top