Tgl penyerahan :
30 September 2017
Nama :
C. Bustomi
Utusan :
MUI Kec. Dramaga
Mata Kuliah :
--
Dosen :
--
Jenis Tugas :
Refleksi
Tgl Materi :
24 September 2017
Kebanggaan Menjadi Kader
Dakwah
Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, terdapat
cerita yang sarat pembelajaran dan hikmah jika kita renungkan. Tentang
kebanggaan. Dahulu, Rasulullah memiliki seekor unta yang sangat membanggakan.
Tak ada unta lain yang dapat mengalahkannya dalam hal berlari. Bahkan untuk
sekadar nyaris menyamai kecepatannya pun sangat sulit. Hingga suatu ketika,
datanglah seorang Badui membawa keledai jantan muda. Keledai itu baru memasuki
usia untuk layak dikendarai. Namun, ternyata kedelai tersebut bisa membalap
unta Rasulullah. Semua sahabat terperangah tak percaya. Unta kesayangan
Rasulullah dapat dikalahkan oleh seekor keledai muda? Kemudian mereka bertanya
kepada Rasulullah ihwal kejadian tersebut. Kemudian dengan sangat bijak beliau
mengatakan, “Tidaklah sesuatu itu sampai pada puncak ketinggiannya, kecuali
Allah akan merendahkannya.”
Pernyataan Rasulullah menjadi pengingat para sahabat ketika itu. Bahwa
ini adalah salah satu dasar keyakinan yang patut kita resapi dalam hidup.
Bahwasanya di dalam perjalanan kehidupan kita di dunia, tidak akan pernah ada
seorang pun yang kekal dalam puncak. Ini tentang makna kebesaran yang tak
selamanya hinggap. Ini terkait kejayaan yang tak selamanya mengendap. Ada
saatnya kerasnya batu harus terbelah oleh tetesan air, adakala kokohnya karang
harus terpecah oleh gelombang. Inilah siklus hidup.
Sebagai seorang muslim, kesadaran ini seharusnya menggugah iman kita.
Bahwa tidak ada alasan bagi kita untuk berbesar hati, bahkan berbangga diri
terhadap sesama. Bukankah maksiat yang pertama kali dilakukan oleh makhluk
adalah kesombongan yang telah diperbuat oleh Iblis terhadap Nabi Adam
‘alaihissalam? Ibnu Abbas menuturkan, karena kesombongannya, Iblis mengatakan “Aku
lebih baik darinya (Nabi Adam)”. Kemudian iblis berdalih bahwa ia lebih
baik karena diciptakan dari api, sedangkan Nabi Adam diciptakan dari tanah.
Begitupun pada kenyataan bahwa seorang yang telah bergerak bersama
dakwah, seringkali tak dapat terhindar dari gejala-gejala kebanggaan diri yang
melenakan. Dalam beberapa dimensi dan parameter. Tentang ukuran waktu misalnya,
ia akan menyisir orang-orang dan melabelkan mereka menjadi orang lama atau
orang baru di dalam dakwah. Ini tidak bisa dihindari. Namun sungguh sangat
ironi, ketika lama dan baru harus dipakai sebagai simbol kehormatan dan
membanggakan diri kita di dalam dakwah. Padahal menjadi kader dakwah sejatinya
hanyalah sebuah kesempatan beramal sebagai kader dakwah. Artinya ia hanyalah
ukuran waktu dan kesempatan. Bila kita telah lama menjadi kader, berarti kita
telah lama pula memiliki kesempatan untuk beramal menjadi kader dakwah. Bukan
berarti lebih banyak kebaikan berupa ilmu dan amal. Namun terkadang kita
terjebak, karena merasa telah lama beredar bersama dakwah. Kita lupa, sejatinya
itu adalah anugerah Allah berupa kesempatan beramal sebaik-baiknya. Boleh jadi,
besok lusa kesempatan ini sudah tidak lagi kita miliki.
Sungguh manis petuah Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitab Al Fawa’id
terkait ciri-ciri orang yang berbahagia. Beliau menuturkan, di antara ciri-ciri
kebahagiaan dan kemenangan seorang hamba adalah: Bila bertambah ilmu
pengetahuannya, maka bertambah pula kerendahan hati dan kasih sayangnya. Setiap
bertambah amal-amal shalih yang dilakukan, bertambah pula rasa takut dan
kehati-hatiannya dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah.
Semakin bertambah usianya, semakin berkurang ambisi-ambisi keduniaannya. Ketika
bertambah hartanya, bertambah pula kedermawanan dan pemberiannya kepada sesama.
Jika bertambah tinggi kemampuan dan kedudukannya, bertambah dekatlah ia kepada
manusia dan semakin rendah hati. Sebaliknya ciri kecelakaan seorang hamba adalah:
Ketika bertambah ilmu pengetahuannya, malah semakin sombong ia dengannya.
Setiap bertambah amalnya, kian bertambah pula kebanggaan terhadap dirinya
sendiri hingga kemudian merendahkan orang lain. Semakin berkemampuan dan
berkedudukan, semakin bertambah pula kesombongannya.
Seiring dengan kerja-kerja dakwah yang semakin rumit dan menantang.
Pilihan menjadi seorang yang bertumbuh menjadi kader dakwah hingga mendapatkan
kebahagiaan dan kemenangan adalah satu hal yang perlu kita hadirkan. Setiap
saat. Setiap langkah. Karena dalam perjalanannya, dakwah ini senantiasa
berusaha menembus ranah realisasi ide dan cita yang terkadang melelahkan. Tak
jarang mengendurkan semangat dan konsistensi kita untuk tetap berlari. Tidak
ada pilihan lain untuk kita selain berusaha banyak bercermin dan mengevaluasi
diri. Mengoreksi kebanggaan diri yang boleh jadi mengikis dan merusak amal kita
tanpa sedikit pun kita sadari…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar