Tanggal Penyerahan : 30 SEPT 2017
Nama : H. MUHAMMAD SYUKRON HABIBY
Utusan : MUI Kecamatan CISARUA
Mata Kuliah : ULUMUL HADIS
Dosen : KH. SANUSI AZHARI
Jenis Tugas : RESUME
Tanggal Materi : 23 SEPT 2017
Setelah mempelajari ilmu hadis (ulumul hadis), maka selanjutnya akan mempelajari hadis itu sendiri, atau hadis-hadis tematik. Namun sebelumnya, perlu diketahui para perawi-perawi hadis sebagai berikut:
- Imam Malik
Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin al-Haris bin Ghaiman bin Jutsail bin Amr bin al-Haris Dzi Ashbah. Imam Malik dilahirkan di Madinan al Munawwaroh pada tahun 93 H.
Ia menyusun kitab Al Muwaththa', dimana dalam penyusunannya ia menghabiskan waktu 40 tahun, selama waktu itu, ia menunjukkan kepada 70 ahli fiqh Madinah.
Kitab tersebut menghimpun 100.000 hadits, dan yang meriwayatkan Al Muwaththa’ lebih dari seribu orang, karena itu naskahnya berbeda beda dan seluruhnya berjumlah 30 naskah, tetapi yang terkenal hanya 20 buah. Dan yang paling masyur adalah riwayat dari Yahya bin Yahyah al Laitsi al Andalusi al Mashmudi
- Imam Bukhori
Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju'fi al-Bukhari. Lahir 13 Syawal 194 H - wafat 256 H, atau lebih dikenal Imam Bukhari, adalah ahli hadis yang termasyhur di antara para ahli hadis sejak dulu hingga kini bersama dengan Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah. Bahkan dalam buku-buku fiqih dan hadis, hadis-hadisnya memiliki derajat yang tinggi. Sebagian menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (pemimpin orang-orang yang beriman dalam hal ilmu hadis). Dalam bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya.
- Imam Muslim
Bernama Abu Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, atau sering dikenal sebagai Imam Muslim. Lahir pata tahun 204 Hijriah.
Dia juga sudah belajar hadis sejak kecil seperti Imam Bukhari dan pernah mendengar dari guru-guru Al Bukhari dan ulama lain selain mereka. Orang yang menerima hadis dari dia ini, termasuk tokoh-tokoh ulama pada masanya. Ia juga telah menyusun beberapa tulisan yang bermutu dan bermanfaat. Yang paling bermanfaat adalah kitab Shahihnya yang dikenal dengan Shahih Muslim. Kitab ini disusun lebih sistematis dari Shahih Bukhari.
Kedua kitab hadis shahih ini; Shahih Bukhari dan Shahih Muslim biasa disebut dengan Ash Shahihain. Kadua tokoh hadis ini biasa disebut Asy Syaikhani atau Asy Syaikhaini, yang berarti dua orang tua yang maksudnya dua tokoh ulama ahli hadis.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin terdapat istilah akhraja hu yang berarti mereka berdua meriwayatkannya.
- Imam Abu Dawud
Nama lengkapnya adalah Abu Dawud Sulaiman Bin Al-Asy’at Bin Ishaq As-Sijistani. Sijistani adalah suatu daerah yang terletak diantara Iran dan Afghanistan, tempat kelahiran beliau pada tahun 202 H/817 M. Sama halnya dengan Al-Bukhari dan Muslim beliau juga berkelana dan berkeliling mencari ilmu dan berguru hadits dari beberpa ulama hadits.
Abu Dawud tidak hanya sebagai seorang perawi, penghimpun, dan penyusun hadits, tetapi juga sebagai seorang ahli hukum yang handal dan kritikus hadits yang baik.
Diantara karya Imam Abu Dawud adalah Sunan Abu Dawud yang beliau perlihatkan kehadapan Imam Ahmad. Dengan bangga Imam Ahmad memujinya. Di dalamnya teknik pembahasannya seperti fiqih,yaitu banyak bicara tentang hukum dan tidak dibahas masalah kisah dan mau’izhah. Buku ini berisikan 5.274 buah hadits secara berulang-ulang yang disaring dan diteliti dari 500.000 buah hadits kemudian diseleksi lagi menjadi 4.800 buah hadits. di dalamnya terdapat hadits shahih,hasan,dan dha’if
- Imam Tirmidzi
Imam al-Hafizh Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin ad-Dahhak as-Sulami at-Tirmidzi, salah seorang ahli hadits kenamaan, dan pengarang berbagai kitab yang masyhur, lahir di kota Tirmiz.
Imam Tirmidzi, di samping dikenal sebagai ahli dan penghafal hadits yang mengetahui kelemahan-kelemahan dan perawi-perawinya, ia juga dikenal sebagai ahli fiqh yang mewakili wawasan dan pandangan luas. Barang siapa mempelajari kitab Jami’nya ia akan mendapatkan ketinggian ilmu dan kedalaman penguasaannya terhadap berbagai mazhab fikih. Kajian-kajiannya mengenai persoalan fiqh mencerminkan dirinya sebagai ulama yang sangat berpengalaman dan mengerti betul duduk permasalahan yang sebenarnya
- Imam Ahmad
Ahmad bin Hanbal, lahir 20 Rabiul awal 164 H adalah seorang ahli hadits dan teologi Islam. Ia lahir di Marw (saat ini bernama Mary di Turkmenistan, utara Afganistan dan utara Iran) di kota Baghdad, Irak. Nama lengkapnya Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad Al Marwazi Al Baghdadi/ Ahmad bin Muhammad bin Hanbal dikenal juga sebagai Imam Hambali
Beliau terkenal dengan sifat dan sikapnya yang Wara’, Tawadlu dan Zuhud.
- Imam Nasa’i (Imam Abu Abdurrahman)
Nama lengkapnya adalah Ahmad Bin Syu’aib Bin Ali Bin Sinam Al-Khurassani An-Nasa’i Abu Abdurrahman. Beliau dilahirkan di kota Nasa’ suatu kota masuk wilayah Khurassan pada tahu 215 H.
Cukup banyak karangan beliau kurang lebih 15 buku/Kitab, yang paling populer adalah Sunan yang disusun seperti bab fiqih. Di dalamnya tidak ada seorang perawi yang disepakati kritikus untuk ditinggalkannya. Dari segi kualitas haditsnya terdapat hadits shahih, hasan, dan dha’if. Beliau memberi nama kitab itu As-Sunan Al-Kubra,kemudian diajukan kepada seorang amir di Ramalah, kemudian beliau ditanya : “apakah semua hadits didalamnya shahih ?” beliau menjawab : “didalamnya ada yang shahih,hasan dan yang mendekatinya.” “tuliskan yang shahih saja dari padanya !” sahut amir. maka beliau menyaring dari kitab itu hadits-hadits shahih saja yang kemudian disebut As-Sunan As-Sughra dan diberi nama Al-Mujtaba Min As-Sunan, inilah yang sampai pada kita. Para ahli hadits banyak yang berpedoman periwayatan dari An-Nasa’i, ia adalah bagian dari kitab induk 6 yang sedikit kedha’ifannya dan seimbang atau dekat dengan Sunan Abu Dawud kitab kedua dari 4 kitab sunan
Hadis Terkait Sholat Jumat (Tematik)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anh bersabda :
عَلَى كُلِّ بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ مَلَكَانِ يَكْتُبَانِ الْأَوَّلَ فَالْأَوَّلَ ... فَإِذَا قَعَدَ الْإِمَامُ طُوِيَتِ الصُّحُفُ
“Pada setiap pintu dari pintu-pintu masjid pada hari Jum’at terdapat dua orang malaikat yang mencatat orang-orang yang terlebih dahulu berangkat... Jika imam (khatib) telah keluar (naik ke mimbar), maka buku catatan para malaikat ditutup.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1770, Ibnu Hibban no. 2774, dan An-Nasai dalam as-sunan al-kubra no. 11907, hadits shahih)
Dalam penjelasannya terhadap perkara ini, Abu Umamah dalam sebuah hadits yang dihasankan oleh Syaikh al Albani, dari Abu Ghalib, pernah ditanya :
“Wahai Abu Umamah, bukankah orang yang datang sesudah imam menaiki mimbar (juga) mendapatkan shalat Jum'at?” Ia menjawab, “Tentu... tetapi ia tidak termasuk golongan yang dicatat dalam buku catatan.”
Kesimpulan:
- Sehingga orang tersebut hanya mendapatkan pahala syahnya sholat jumat, namun tidak mendapatkan keutamaan dari catatan Malaikat
- Salah satu doa mustajab adalah ketika seseorang berdoa diantara dua khutbah (ketika khotib duduk)
=========================================================================================
Tanggal Penyerahan : 30 SEPT 2017
Nama : H. MUHAMMAD SYUKRON HABIBY
Utusan : MUI Kecamatan CISARUA
Mata Kuliah : PERAN ULAMA DALAM MENJAGA KEUTUHAN NKRI
Dosen : Prof. DR. H. Didin Hafidzudin - 0811119833
Jenis Tugas : RESUME
Tanggal Materi : 23 SEPT 2017
- Ulama adalah bentuk jama’ yang berarti perkumpulan orang-orang yang memiliki kedalaman ilmu [mutafiqqih fid dien] serta berwawasan sosial yang menjadikannya teladan di masyarakat.
- Negara Kesatuan Republik Indonesia [NKRI] adalah warisan luhur dari para ulama Nusantara. Selain Soekarno dan Hatta, para pejuang dan pendiri bangsa ini adalah para Ulama, diantaranya:
- Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari
- Jend. Soedirman
- KH Ahmad Sanusi
- Ki Bagus Hadi Kusumo
- KH Wahid Hasyim
- Haji Agus Salim
- KH Soleh Iskandar
- KH Nur Alie Bekasi
- KH Khoer Affandy Tasikmalaya
- KH Zainul Musthofa
- KH Masyjur
- Buya Hamka
- Prof Moh Natsir
- Mr Moch Roem
- KH Hasan Bangil
- Kasman Singodimejo
- Mr Syafruddin Prawiranegara
- Bung Tomo, dll
- Para Ulama menjaga NKRI dari Ideologi dan paham-paham menyimpang, baik sekularisme, komunisme, Radikalisme Agama, Syiah, Wahabi dsb.
- Pancasila adalah hasil konsensus dari para pendiri Bangsa, di dalamnya termasuk para ulama. Pilihan Pancasila sebagai dasar negara lebih karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya adalah merupakan bagian dari ajaran-ajaran Islam, diantaranya “tauhid, bashariyah, ukhuwah, musyawarah dan wathoniyah”.
- Ulama masa kini harus berperan pada dua hal:
- Mewarisi dan mempertahankan tradisi keilmuan, kedalaman pengetahuan salaf (klasik) serta penjagaan integritas akhlakul karimah
- Wawasan yang luas atas fenomena terkini, termasuk konteks internasional dan tekhnologi
- Ulama harus membumi, karena fungsi teladan adalah membahasakan ayat-ayat langit ke dalam bahasa bumi, sehingga proses dakwah menjadi efektif dan masif.
=========================================================================================
Tanggal Penyerahan : 30 SEPTEMBER 2017
Nama : H. MUHAMMAD SYUKRON HABIBY
Utusan : MUI Kecamatan CISARUA
Mata Kuliah : Tasawuf dan Tauhid (Al Hikam)
Dosen : KH Khusnudin
Jenis Tugas : RESUME
Tanggal Materi : 23 AGUSTUS 2017
Hikmah ke 29
“Pokok/sumber segala maksiat, kelalaian dan dan syahwat, lebih karena ingin memuaskan [ridho dengan] hawa nafsu. Sedangkan pokok/sumber segala ketaatan, kesadaran dan moral [budi pekerti], ialah karena adanya pengendalian terhadap hawa nafsu””
Artinya, Nafsu adalah sumber malapetaka. Bahkan ibadah dengan nafsu pun tidak diperkenankan, karena akan merusak amalan.
Hikmah ke 30
“Jangan mengadu dan meminta suatu kebutuhan selain kepada Allah,sebab Ia sendiri yang memberi dan menurunkan kebutuhan itu padamu. Maka bagaimanakah sesuatu selain Allah akan dapat menyingkirkan sesuatu yang diletakkan oleh Alloh. Barang siapa yang tidak dapat menyingkirkan bencana yang menimpa dirinya sendiri, maka bagaimanakah ia akan dapat menyigkirkan bencana yang ada pada orang lain? ”
Artinya, Allohlah tempat mengadu dan meminta, karena hakikatnya segala sumber kebutuhan ini adalah dari Alloh dan Alloh yang mengurus dan menakarnya kepada seluruh umatNya.
Hikmah ke 31
“Jika engkau tidak bisa berbaik sangka terhadap Allah atas sifat Allah yang Maha Baik itu, berbaik sangkalah pada Allah karena karunia pemberianNya kepadamu. Tidakkah Ia selalu memberi nikmat dan karuniaNya padamu?”
Artinya, terdapat 2 golongan manusia dalam berkhusnudzon kepada Allah, 1) Ammah, yaitu golongan yang berkhusnudzon kepada Allah karena karunia dan anugerah dari Allah yang tak terhitung. 2) khossoh, yaitu golongan yang berkhusnudzon karena sifat-sifat Allah yang maha Tinggi.
Hikmah ke 32
“Sebuah keanehan yang sangat mengherankan [ajaib], adalah terhadap orang yang lari dari Allah [dzat yang sangat dibutuhkan], dan tidak dapat terlepas dari padaNya. Dan juga berusaha mencari apa yang tidak akan kekal padanya. Sesungguhnya bukan mata kepala yang buta, tetapi yang buta ialah mata hati yang di dalam dada”
Artinya, seseorang tidak akan dapat melepaskan diri dari Allah. Karena Allah adalah dzat yang Maha dibutuhkan. Sehingga orang-orang yang berfikir demikian sesungguhnya telah buta mata hatinya.
Hikmah ke 33 (28)
“Jangan bersahabat dengan seseorang yang tidak dapat membangkitkan semangat dalam taat kepada Allah, perilakunya dan apa yang dikatakannya tidak memimpin engkau ke jalan Alloh”
Artinya, Berhati-hatilah dalam memilih teman, karena perilaku teman akan bisa mempengaruhi perilaku kita.
Hikmah ke 34 (29)
“Terkadang engkau beruat kekeliruan (dosa), dimana ditampakkan kepadamu hal tersebut sebagai sesuatu kebaikan, oleh karena persahabatanmu kepaa orang yang jauh lebih rendah akhlaknya (iman) darimu”
Artinya, Seringkali manusia terbuai dengan perilaku-perilaku yang dianggapnya benar, padahal perilaku tersebut salah, dan dianggap benar lebih karena dibenarkan oleh sahabat dengan tingkat kualitas keimanan dan akhlak yang rendah darinya.
Hikmah ke 35 (30)
“Baiknya amal perbuatan itu, sebagai hasil dari baiknya ahwal, dan baiknya ahwaal itu sebagai hasil dari kesungguhan istiqomah dan pada maqam inzaal (apa yang diperintah oleh Allah)”
Artinya, Segala amal baik itu pastilah buah dari istiqomah terhadap menjalankan perintah-perintah Allah yang mana akan tampak jelas oleh hati yang bersih dan ihlas (zuhud).
Hikmah ke 36 (31)
“Jangan meninggalkan dzikir walaupun engkau belum bisa selalu ingat kepada Allah sewaktu berdzikir, sebab kelalaianmu terhadap Allah ketika tidak berdzikir itu, lebih berbahaya dari pada kelalaianmu terhadap Allah ketika kamu berdzikir. Semoga Allah menaikkan derajatmu dari kelalaian dengan dzikir yang disertai ingat kepada Allah, kemudian naik pula dari dzikir dengan kesadaran ingat kepada disertai rasa hadir hingga lupa terhadap segala sesuatu selain Allah. Dan yang demikian itu bagi Allah tidak sulit dalam mengabulkannya ”
Hikmah ke 37 (32)
“Sebagian dari tanda matinya hati yaitu jika tidak merasa sedih atas tertinggalnya amal kebaikan [kewajiban], juga tidak menyesal jika berbuat doa [pelanggaran]”
Artinya, orang yang tidak menyesal atas kelalaiannya meninggalkan ibadah, serta tidak menyesal atas dosa-dosa yang telah dikerjakannya, artinya ia telah mati hatinya.
========================================================================
Tidak ada komentar:
Posting Komentar