Tanggal Penyerahan : 30 September 2017
Nama : H. MUHAMMAD SYUKRON HABIBY
Utusan : MUI Kecamatan CISARUA
Mata Kuliah : -
Dosen : -
Jenis Tugas : REFLEKSI
Tanggal Materi : 23 September 2017
JADILAH MANUSIA WAJAR
Sebagai mahluk sosial, manusia tidak akan terlepas dari kehidupan bermasyarakat. kecenderungan manusia adalah akan hidup berkelompok, membangun keluarga, membangun komunitas, atau dalam lingkup yang lebih besar adalah membangun kesepakatan kebangsaan dalam bingkai negara.
Manusia tentu memiliki cara pandang/ perspektif yang beragam atas fenomena atau peristiwa yang tengah terjadi. Karena itulah ke-khasan manusia, memiliki akal dan kecenderungan yang tidak mungkin bisa seragam.
Akhir-akhir ini kita saksikan perdebatan atas issue hangat yang tengah mengemuka, yakni anggapan akan terjadi “kebangkitan PKI” dan ajaran komunisme di negeri ini. Tokoh-tokoh nasional mulai dari tokoh agama, kalangan budayawan, sejarawan, bahkan politisi angkat bicara. Tidak hanya itu, perbincangan bahkan perdebatan sengit juga tampakpada group-group Whatsapp dan medsos semacam facebook dan twitter. Entah referensi yang digunakan terukur atau hoax, menjadi tidak penting. Bagi penyebar dan penikmat group WA tersebut, lebih penting menuruti rasa suka dan tidak suka daripada meneliti validitas informasi.
Tampak nyata masyarakat mulai terbelah, setidaknya antara yang Pro atas pendapat kebangkitan PKI dan pihak yang merasa tidak perlu mengkhawatirkan kebangkitan PKI.
Issue itu lalu dikaitkan dengan kontroversi pidato Panglima TNI yang menceritakan 5000 senjata ilegal dihadapan para purnawirawan, walaupun belakangan telah diklarifikasi. Entah hal apa yang bisa mengkaitkan kedua peristiwa tersebut, bagi pengelola issue semua menjadi bisa. Namun, spekulasi telah sedemikian liar di masyarakat. Ada yang mengkaitkan Panglima sedang membocorkan rahasia negara, ada juga yang menganggap informasi Panglima tidak valid, bahkan ada yang menganggap Panglima sedang melakukan akrobatik politik dan dituduh “nggege mangsa” [tidak sabar] menyambut perhelatan 2019, yakni pilpres.
Kita termasuk ke dalam golongan yang mana? entahlah, sikap kita tentu beragam. Namun, bukankah kita ini dijadikan manusia untuk menjaga titik keseimbagan dengan (salah satunya) bersikap wajar atas setiap peristiwa? kalau dunia ini tidak butuh sikap-sikap wajar, tentulah bukan manusia yang memimpin bumi ini, mungkin binatang saja cukup.
Kewajaran kita adalah dengan melihat lebih luas konteks atas setiap peristiwa. Tidak akan pernah ada sebuah informasi tanpa maksud dibaliknya. Oleh karena itu, setiap informasi akan mengandung maksud dan tujuan dari para penyebar informasinya. Bisa tujuan moral, dakwah, atau bahkan pesan destruktif yang bertujuan merusak tatanan, entah dengan bingkai politik atau bahkan bingkai agama.
Maka, menjadi penting bagi kita untuk menjadi manusia wajar, yakni bersikap normal dan berlaku objektif atas setiap fenomena dan peristiwa yang tengah terjadi. Jangan pernah menjadi kompor bahkan sekedar menjadi bara dan minyaknya.[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar