Translation :
Tantangan yang Dihadapi oleh Islam dan Ajaran Islam yang Sejati
1. Jihad
Tantangan utama yang dihadapi oleh
Islam adalah Jihad yang dilakukan oleh Mujahidin di seluruh Indonesia Dunia. orang-orang di dunia menganggap
Islam sebagai Sebuah agama yang tidak toleran dan destruktif yang hanya
menerima keberadaan umat Islam di dunia Dan tidak memiliki toleransi terhadap
orang-orang dari kepercayaan dan agama lain.
Pengajaran
Islam –
Pemberitaan Islam yang benar
terhadap para pengikut agama lain adalah Berdasarkan toleransi.
oleh karena itu semua aktivitas
Jihad yang sedang berlangsung saat ini adalah Karena kurangnya pengetahuan
tentang Mujahidin tentang khotbah yang benar dan Sejarah Islam Apalagi, Islam
hanya memperbolehkan orang lain berkelahi bila keberadaan Islam itu
Dipertaruhkan, dan dalam pertempuran itu juga Islam menginstruksikan para
pengikut untuk berperang dalam pertempuran Terdepan dan tidak membahayakan atau
membunuh warga sipil.
2. Agama
Regresif
Tantangan kedua yang dihadapi Islam
adalah kesannya sebagai agama yang regresif terutama orang-orang dari Barat berpikir bahwa
Islam itu Agama yang regresif dan mundur yang tidak beradaptasi dan melekat
pada ajaran Quran itu Terungkap 1400 tahun yang lalu.
Pengajaran
Islam –
Jika seseorang memandang dan
menganalisa Islam dengan tontonan objektivitas saat itu Setiap individu waras
di dunia ini akan sampai pada kesimpulan bahwa Islam adalah yang paling Agama
progresif di dunia.
Islam adalah agama yang paling
progresif yang diwahyukan kepada umat manusia di Indonesia Abad ke 7, beberapa
perubahan besar yang dibawa oleh Islam yang menunjukkan semangat reformasi
agama di antaranya adalah:
Islam adalah agama pertama yang
memberi hak kepada perempuan di bidang properti Islam juga memberi wanita
kebebasan berbicara dan menolak gagasan bahwa wanita adalah makhluk yang lebih
rendah Budak dan wanita diberi hak yang sama dengan orang lain.
3. Quran
Bukan Universal:
Muslim percaya bahwa Islam adalah
agama universal dan ajaran Quran juga Universal, Inilah yang menimbulkan dugaan lain
dimana orang berpikir bahwa Quran Tidak universal, dugaan orang ini
Juga menghubungkan asosiasi Muslim dan berafiliasi dengan Quran sebagai sumber
umat Islam Terbelakang dan tidak tahu apa-apa tentang dunia kontemporer.
Pengajaran Islam –
Pertama, Islam sama sekali tidak
bersifat regresif dan Quran bukan hanya agama Buku melainkan buku pengetahuan
dan berisi pengetahuan tentang semua hal di alam semesta.
Kedua, Islam masuk Tidak ada cara
yang menghambat penyempurnaan dalam pendidikan dan pengetahuan, khususnya Nabi
SAW Berbagai hadisnya mendorong pembelajaran dan pencarian pengetahuan.
Tgl penyerahan : 12 Agustus 2017
Nama : C. Bustomi
Utusan : MUI Kec. Dramaga
Mata Kuliah : Tafsir Tematik (Maudu'i)
Dosen : KH. Rosyadi
Jenis Tugas : Resume
Tgl Materi : 05 Agustus 2017
|
|
( 1 )
ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون
“Kamu adalah umat
yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan
mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”.( Ali Imran:104 )
Ayat di atas
secara tegas memerintahkan berdakwah, oleh karenanya para ulama sepakat tentang
kewajiban dakwah ini. Akan tetapi, kemudian mereka berselisih menjadi dua
pendapat:
- Hukum dakwah
adalah fardhu kifayah.
- Hukum dakwah
adalah fardhu ‘ain, sesuai dengan kemampuan masing2.
( 2 )
كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله ولو آمن أهل الكتاب لكان خيرا لهم منهم المؤمنون وأكثرهم الفاسقون
“Kalian adalah umat yang
terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan
mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” ( Ali Imron : 110 )
Di dalam ayat ini terkandung
dua hal; pertama, mulianya umat Islam adalah dengan dakwah. Kedua, tegak dan
eksisnya umat Islam adalah dengan menjalankan konsep amar ma’ruf nahi munkar.
Apapun profesi dan pekerjaan
seorang muslim, tugas dakwah tidak boleh dia tinggalkan. Setiap muslim
berkewajiban untuk menyampaikan dakwah sesuai dengan kapasitas dan kemampuan
yang dimiliki. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa dakwah adalah jalan hidup
seorang mukmin yang senantiasa mewarnai setiap perilaku dan aktifitasnya.
|
( 3 )
يؤمنون بالله واليوم الآخر ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر ويسارعون في الخيرات وأولئك من الصالحين
|
Maksudnya :
(Mereka beriman kepada Allah dan hari yang akhir, menyuruh
kepada yang makruf dan melarang dari yang mungkar dan berlomba-lomba
mengerjakan kebaikan. Mereka itulah) yakni
yang dilukiskan tadi (termasuk orang-orang
yang saleh). Di antara mereka ada pula yang tidak seperti demikian dan tidak
termasuk orang-orang yang saleh.
|
( 4 )
لا خير في كثير من نجواهم إلا من أمر بصدقة أو معروف أو إصلاح بين الناس ومن يفعل ذلك ابتغاء مرضات الله فسوف نؤتيه أجرا عظيما
|
Maksudnya;
tidak ada kebaikan pada kebanyakan
bisikan-bisikan manusia dan perbincangan mereka apabila tidak mengandung
kebaikan padanya karena boleh jadi hal tersebut tidak ada manfaatnya seperti
memperbanyak perbincangan yang mubah, maupun keburukan atau mudarat yang murni
seperti perkataan yang diharamkan dengan berbagai macamnya.
Atau memerintahkan yang
“ma’ruf” adalah termasuk bentuk ihsan dan ketaatan dan segala sesuatu yang
dikenal oleh syariat dan akal sehat tentang kebaikannya. Apabila disebutkan
kata ‘ma’ruf’ secara mutlaq tanpa disebutkan lafazh ‘nahi mungkar’ maka
otomatis masuk juga ‘nahi mungkar’ alasannya adalah karena orang yang
meninggalkan larangan-larangan merupakan hal yang ma’ruf, juga dikarenakan
alasan bahwa tidaklah sebuah kebaikan akan menjadi sempurna sehingga orang harus
meninggalkan keburukan. Adapun apabila dua kalimat tersebut apabila digabungkan
maka ma’ruf diartikan sebagai perbuatan yang diperintahkan sedangkan mungkar
dengan meniggalkan larangan.
Atau mengadakan perdamaian
diantara manusia”, yakni tidaklah dikatakan perdamaian kecuali yang terjadi
diantara dua orang yang bersengketa dan bermusuhan. Permusuhan, pertikaian dan
rasa benci menimbulkan keburukan dan perpecahan yang tidak dapat terhingga.
Oleh karena itu Syariat menganjurkan perdamaian diantara manusia pada hak darah
, harta, kehormatan, bahkan masalah agma.
|
( 5 )
|
لولا ينهاهم الربانيون
والأحبار عن قولهم الإثم وأكلهم السحت لبئس ما كانوا يصنعون
“Mengapa orang-orang alim
mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan
bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka
kerjakan itu”. ( Al-Maidah : 63 )
Ayat ini
menjelaskan tanggung jawab besar yang ada di pundak para ulama, cerdik pandai
dan para pembimbing masyarakat. Ia mengatakan, jika masyarakat berbuat dosa dan
kesalahan, akan tetapi mengapa para tokoh dan ulama itu, diam tidak melarang
dan bungkam seribu bahasa? Sekedar menjauhkan diri dari dosa tidaklah cukup.
Namun hendaknya para pendosa dicegah dari perbutan-perbuatan dosanya. Karena
sikap diam di hadapan perbuatan jahat dan dosa, merupakan sejenis dukungan
terhadap dosa tersebut, yang bakal menghantarkan manusia kepada balasan dan
siksa.
Dari ayat tadi
terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1. Diam dan
sikap tidak perduli, bukan alasan dan tidak akan melepaskan seseorang dari
kewajibannya. Bahkan yang demikian itu akan semakin mendorong dan membuka
peluang bagi seseorang untuk semakin berani melakukan dosa.
2. Tanggung
jawab amar makruf dan nahi mungkar pada tahap pertama merupakan kewajiban para
ulama agama.
3. Ilmu pengetahuan akan berharga jika ia ditampakkan
dan diarahkan untuk mencegah tingkah laku dan watak-watak jahil.
|
( 6 )
|
كانوا لا يتناهون عن منكر فعلوه لبئس ما كانوا
يفعلون
"Mereka
tidak saling melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. sungguh amat
buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu". ( Al-Maidah : 79 )
Ayat ini
menjelaskan salah satu bentuk kedurhakaan mereka. Ini dijelaskan dan dijawab
dengan firmannya di atas bahwa: mereka senantiasa dan sejak dahulu hingga kini
tidak saling melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat, yakni tidak saling
melarang mengulangi perbuatan mungkar yang diperbuat oleh sebagian mereka.
Sungguh amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.
Kata yatanaahaun
/ saling melarang dalam arti bila ada yang melakukan dengan suatu kemungkaran,
maka yang lain melarangnya, dan bila suatu ketika yang melarang itu melakukan
kemungkaran serupa atau berbeda, maka ada lagi yang lain tampil melarangnya,
baik yang dahulu pernah dilarang maupun anggota masyarakat lain.
Kata yatanahaun
dapat juga dipahami dalam arti berhenti, yakni tdak melakukan, sehingga jika
dipahami demikian, dengan penambahan kata "la" / tidak, ayat ini
berarti bahwa mereka terus menerus dan tidak berhenti-henti melakukan kemungkaran.
Ayat ini
merupakan salah satu dasar menyangkut kewajiban melaksanakan amar ma'ruf dan
nahi mungkar.
Kata munkar
adalah lawan kata ma'ruf. Kata munkar atau mungkar dipahami oleh banyak ulama
sebagai segala sesuatu, baik ucapan maupun perbuatan yang bertentangan dengan
ketentuan agama, akal dan adat istiadat.
( 7 )
فلما نسوا ما ذكروا به أنجينا الذين ينهون عن السوء
وأخذنا الذين ظلموا
بعذاب بئيس بما كانوا يفسقون
“Maka
tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan
orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada
orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat
fasik”. ( Al-A’raf : 165 )
Dalam ayat diatas
Allah telah menetapkan keselamatan bagi orang-orang yang melakukan pelarangan
dan kebinasaan bagi orang-orang yang dhalim, sedangkan Allah mendiamkan (tidak
menyebutkan ketentuan) terhadap yang berdiam diri, karena balasan sesuai dengan
jenis amal perbuatan dan mereka itu tidak melakukan perbuatan yang menjadikan
mereka berhak mendapatkan pujian, juga mereka tidak melakukan perbuatan dosa
yang jadikan mereka tercela.
Namun demikian,
para Ulama telah
berbeda pendapat mengenai mereka, apakah mereka itu termasuk orang-orang yang
dibinasakan ataukah termasuk orang-orang yang diselamatkan. Mengenai hal ini
terdapat dua pendapat.
|
( 8 )
|
خذ العفو وأمر بالعرف وأعرض عن
الجاهلين
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan
yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh”. ( Al-A’raf : 199 )
Ayat ditas mengandung pokok-pokok
akhlak yang mulia, diantaranya adalah memberikan maaf dan ampunan kepada orang
lain. Hal ini adalah bagian dari akhlak kepada sesama manusia tanpa membebani
mereka dan menjadikan sulit dan terbebani. Inilah salah satu dari ciri akhlak
seorang muslim yaitu memaaf, memudahkan dan lembut lembut dengan orang lain.
|
( 9 )
|
والمؤمنون والمؤمنات بعضهم أولياء بعض يأمرون
بالمعروف وينهون عن المنكر
ويقيمون الصلاة ويؤتون الزكاة ويطيعون الله
ورسوله أولئك سيرحمهم الله إن الله عزيز حكيم
“Dan
orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah)
menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang
ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan
mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah;
Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” ( At-Taubah : 71 )
Ayat diatas menjelaskan bahwa sebagian kaum
mukminin, baik laki-laki maupun perempuan adalah penolong bagi sebagian yang
lain. Mereka saling menyongkong karena kesamaan agama dan keimanan kepada
Allah. Mereka menyuruh yang ma’ruf (segala amal saleh yang diperintahkan
syariat, seperti tauhid dan ibadah), mencegah yang mungkar (segala ucapan dan
perbuatan yang dilarang syariat, seperti kezhaliman dan kenistaan), mengerjakan
shalat fardhu tepat waktu, membayar zakat wajib, menanti perintah dan laranagn
Allah serta Rasul-Nya. Mereka yang memiliki sifat demikian pasti dirahmati
Allah (sebagaimana janji-Nya) dengan kenikmatan surga. Allah Maha kuat, tiada
sesuatu yang bisa melemahkan-Nya, Maha Bijaksana dalam semua ketentuan-Nya. Dia
tidak meletakkan sesuatu, kecuali pada tempatnya.
|
( 10 )
|
التائبون
العابدون الحامدون السائحون الراكعون الساجدون الآمرون بالمعروف
والناهون
عن المنكر والحافظون لحدود الله وبشر المؤمنين
“Mereka
itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang
melawat, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah
berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang
mukmin itu”. ( At-Taubah : 112 )
Maksudnya;
Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat
dari kemusyrikan dan kemunafikan (yang beribadah) orang-orang yang ikhlas
karena Allah dalam beribadah (yang memuji) kepada Allah dalam semua kondisi
(yang melawat) makna yang dimaksud adalah mereka selalu mengerjakan shaum/puasa
(yang rukuk, yang sujud) artinya mereka adalah orang-orang yang salat (yang
menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara
batasan-batasan Allah) yakni hukum-hukum-Nya dengan cara mengamalkannya. (Dan gembirakanlah orang-orang
mukmin itu) dengan surga.
( 11 )
إن الله يأمر بالعدل
والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي
يعظكم لعلكم تذكرون
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu)
berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah
melarang dari perbuatan keji, kemunkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran
kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” ( An-Nahl : 90 )
Maksudnya:
Allah Ta’ala memberitahukan bahwa
Dia memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berbuat adil, yakni mengambil sikap
tengah dan penuh keseimbangan, serta menganjurkan untuk berbuat kebaikan.
|
( 12 )
|
Dan ia menyuruh ahlinya untuk
bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi
Tuhannya.
Ayat diatas memberi
Isyarat bahwa perhatian kepada keluarga dan pendidikan dalam keluarga yang
merupakan mukadimah untuk memperbaiki masyarakat. Karena itu, sebelum mengajak
umat dan masyarakat kepada agama, para pembawa misi risalah dan kenabian mesti
memulai seruan mereka dengan memperbaiki keluarganya. Tentunya, bagi para nabi
keridhaan Allah adalah tolok ukur dari semua langkah dan tindakan, bukan
kepuasan manusia. Karena itu para nabi tak akan pernah mundur dari prinsip yang
diyakininya hanya demi memuaskan masyarakat.
- Dari ayat tersebut
terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:
1.
Yang semestinya menjadi
parameter untuk penghormatan adalah kesempurnaan spriritual bukan hal-hal yang remeh dan tak
berguna.
2.
Selain memikul tugas
dan tanggung jawab sosial, para nabi juga memiliki tanggung jawab di keluarga
mereka. Dalam masalah mendidik keluarga, mereka memprioritaskan shalat dan
zakat di atas semua hal
|
( 13 )
|
الذين إن مكناهم في الأرض
أقاموا الصلاة وآتوا الزكاة وأمروا بالمعروف ونهوا عن المنكر
ولله عاقبة الأمور
“…(yaitu) orang-orang yang jika Kami
teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang,
menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang
mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” ( Al-Hajj : 41 )
Ayat diatas mencerminkan sekelumit
dari ciri-ciri masyarakat yang diidamkan Islam, kapan dan dimanapun, dan yang
telah terbukti dalam sejarah melalui masyarakat Nabi Muhammad saw. dan para
sahabat beliau.
Masyarakat itu adalah yang
pemimpin-pemimin dan anggota-anggotanya secara kolektif dinilai bertakwa,
sehingga hubungan mereka dengan Allah swt. sangat baik dan jauh dari kekejian
dan kemunkaran, sebagaimana dicerminkan oleh sikap mereka yang selalu
melaksanakan shalat dan harmonis pula hubungan anggota masyarakat, termasuk
antar kaum berpunya dan kaum lemah yang dicerminkan oleh ayat diatas dengan
menunaikan zakat. Disamping itu mereka juga menegakkan niali-niai yang dianut
masyarakat, yaitu nilai-nilai ma’ruf dan mencegah perbuatan yang munkar.
Pelaksanaan kedua hal tersebut menjadikan masyarakat melaksanakan kontrol
sosial, sehingga mereka saling ingat mengingatkan dalam hal kebajikan, dan
saling mencegah terjadinya pelanggaran.
|
( 14 )
|
إن ذلك من عزم الأمور
“Hai anakku, Dirikanlah shalat dan
suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan
yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang
demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” ( Luqman : 17 )
Ayat diatas menerangkan
mengenai kewajian mengerjakan shalat
karena shalat merupakan hal yang utama serta di wajibkan untuk mengerjakan yang
baik serta mencegah dari perbuatan yang mungkar dan diserukan untuk bersabar
ketika menghadapi sesuatau yang menimpa dirinya (anak Luqman) dan dari ketika tersebut diatas maka dapat
ditarik kesimpulan bahwasannya itu adalah wajib untuk dilaksanakan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar