Berfikir
dan Beriman
Oleh : C. Bustomi MUI Dramaga
Bismilaahirrohmaanirrahiim
Telah kita
ketahui bahwa Islam adalah agama yang dianut dan diimani dengan akal. Sebab
seseorang yang dilahirkan sebagai Muslim sekalipun tidak wajib beriman dan
berislam kecuali setelah dia dapat menggunakan akalnya alias mencapai umur Aqil
dan baligh. Bahkan hadith Nabi menegaskan bahwa dasar keberagamaan dalam Islam
itu adalah fikiran, tanpa fikiran berarti tidak ada keberagamaan religiusitas
(الدين عقل
لا دين لمن لا عقل له )
Artinya
beriman dalam Islam itu berdasarkan pada akal, dan ilmu ‘aqliyah itu
bertujuan untuk beriman.
Dalam hal tadi Nabi menegaskan bahwa:
من ازداد علما ولم يزدد هدى لم يزدد
من الله إلابعدا
Barangsiapa tambah
ilmunya, tapi tidak tambah petunjuknya, maka ia akan tambah jauh dari Allah (al-hadīth).
Hadits ini dapat diartikan begini:
berangsiapa ilmunya tidak mengandung iman maka bertambahnya ilmu hanya akan
menambah kesesatan. Logikanya, karena ‘ilm itu mengandung iman dan sebaliknya,
maka sudah barang tentu bertambahnya ‘ilm itu akan menambah kekuatan iman.
Logika seperti ini akan lebih mudah
difahami jika dibandingkan dengan kredo Katholik. Bagi mereka keimanan adalah
asas dari pemahaman credo ut intellegam (saya beriman supaya saya faham). Tapi
dalam Islam pemahaman yang menggunakan akal fikiran itu adalah asas keimanan.
Maka dari itu ilmu dalam Islam adalah prasyarat iman, mencapai umur akil baligh
adalah presyarat berislam. Non-Muslim yang baligh dapat masuk Islam setelah
mamahami Islam, dan tidak boleh dipaksa. Maka kredo tersebut bagi Muslim harus
dibalik menjadi intellego ut credam (saya faham supaya saya beriman).
Untuk mengetahui bagaimanakah proses
berfikir dan beriman itu, perlu tahu pula kompleksnya perangkat jiwa manusia
dalam Islam.
Dalam Islam terdapat nafs (jiwa), shodr
(dada), ‘aql (akal ), qalb (hati), Fu’ad (nurani), al-Lubb (akal fikiran yang
beriman) dan lain sebagainya.
Dikatakan qalb (hati) itu
diibaratkan sebagai mata, sadr adalah putih mata, fu’ad adalah hitamnya pupil
mata sedangkan lubb adalah cahaya mata. Itu semua disebut nafs sebagai potensi
utamanya. Di dalam jiwa terdapat potensi qalb dan di dalam qalb terdapat shodr.
Jika diibaratkan sebuah struktur kekuasaan qalb itu adalah raja dan jiwa itu
adalah kerajaannya. “Jika rajanya baik – seperti sabda Nabi – maka baiklah
bala tentaranya dan jika rusak maka rusaklah bala tentaranya”. Demikian
pula baik-buruknya jasad itu tergantung pada hati (qalb). Hati (qalb) itu
bagaikan lampu dan baiknya suatu lampu itu terlihat dari cahanya. Maka cahaya
hati adalah ketaqwaan dan keyakinannya.
Sekarang marilah kita cermati
dimanakah letak ilmu itu dalam diri manusia. Secara umum al-Imam al-Ghazalī menyatakan bahwa:
“ilmu adalah kehadiran makna sejati dari
benda-benda – dan segala kualitas, kuantitas, substansi dan esensi benda-benda
itu – dalam jiwa yang tenang dan rasional.
Definisi al-Imam al-Ghazalī ini
mirip dengan definisi para ulama sezamannya. Dalam tradisi Islam ilmu diartikan
sebagai sampainya makna kedalam fikiran dan sampainya fikiran kedalam makna.
Ini mengindikasikan bahwa jiwa yang dimaksud al-Ghazalī adalah fikiran. Berarti
ilmu itu berada di dalam jiwa, tapi jiwa sendiri memilki bagian-bagian yang tak
terpisahkan dan saling berhubungan.
Berkaitan dengan letak ilmu
al-Qur’an menjelaskan bahwa alat untuk memahami sesuatu adalah qalb:
ولقد ذرأنا لجهنم كثيرا من الجن والإنس
لهم قلوب لا يفقهون بها ولهم أعين لا يبصرون بها ولهم آذان لا يسمعون بها أولئك
كالأنعام بل هم أضل أولئك هم الغافلون
“Dan sesungguhnya Kami
jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka
mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)
dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat
(tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang
ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (al-A’raf 179).
Namun, sebagian ulama menjelaskan
bahwa tempat masuknya cahaya ilmu (termasuk ajaran Islam) adalah shodr. Ketika
seseorang kita anggap sedang “berfikir” yang pertama-tama bekerja adalah shodr.
Shadr adalah pintu masuk segala sesuatu ke dalam diri manusia termasuk nafsu
amarah, nafsu birahi, cita-cita, keinginan. Akan tetapi shodr itu juga tempat
masuknya ilmu yang datang melalui panca indera, termasuk khabar. Maka dari itu
pengajaran, hafalan, dan pendengaran itu berhubungan dengan shodr. Dinamakan shodr
karena merujuk kepada kata shodaro (muncul), atau shodr (pusat).
Menurut sebagian ulama shodr
menerima informasi awal dari segala sesuatu dan kemudian fuad memprosesnya. Di
dalam fuad inilah tempat cahaya ma’rifah, ide, pemikiran, konsep dan pandangan.
Kerja-kerja fuad itu kemudian dilimpahkan kepada qalb. Qalb adalah juga tempat
bersemayamnya cahaya Iman, cahaya kekhusyu’an, ketaqwaan, kecintaan, keridhaan,
keyakinan, ketakutan, harapan, kesabaran, kepuasan. Artinya qalb bisa berfungsi
sebagai tempat iman dan juga sebagai tempat ilmu.
Informasi yang masuk kedalam qalb
itu kemudian diproses di tempat yang paling tinggi yaitu lubb. Arti lubb yang
sebenarnya adalah akal pikiran yang beriman. Ulul Albab adalah orang yang
berakal fikiran tauhidi, maka lubb adalah tempat cahaya ketauhidan. Disini
jelas bahwa kita tidak bisa berfikir tanpa melibatkan aspek-aspek kejiwaan
lainnya.
Jadi jika seseorang berfikir dan
pada saat itu ia membuang jauh-jauh keimanannya, maka besar kemungkinan fu’ad,
qalb dan lubb orang tersebut tidak digunakan, alias menganggur. Fikirannya
tidak membawanya lebih dekat dengan Tuhannya. Segala amal perbuatannya menjadi
bukan untuk ibadah. Buah fikirannya tidak memancarkan cahaya, karena cahaya
ilahi tidak akan pernah masuk kedalam fikiran orang yang tidak niat untuk
beribadah, tapi terjerumus kedalam kubangan maksiat.
Padahal dalam Islam segala aktifitas
seorang Muslim, ilmiyah atau non ilmiyah adalah lillah untuk ibadah demi
mencapai mardhatillah sehigga akhir perjalanan pemikirannya dapat mencapai
hikmah. Barangsiapa dikarunia Allah suatu hikmah, maka ia telah dikaruniai
kebaikan yang berlimpah.
Wallohu a’lamu bis showab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar