Selasa, 08 Agustus 2017

REFLEKSI MINGGU KE-4 C. BUSTOMI MUI DRAMAGA

Tidak ada komentar:

 
Berfikir dan Beriman
Oleh : C. Bustomi MUI Dramaga 
Bismilaahirrohmaanirrahiim
Telah kita ketahui bahwa Islam adalah agama yang dianut dan diimani dengan akal. Sebab seseorang yang dilahirkan sebagai Muslim sekalipun tidak wajib beriman dan berislam kecuali setelah dia dapat menggunakan akalnya alias mencapai umur Aqil dan baligh. Bahkan hadith Nabi menegaskan bahwa dasar keberagamaan dalam Islam itu adalah fikiran, tanpa fikiran berarti tidak ada keberagamaan religiusitas
(الدين عقل لا دين لمن لا عقل له  )
Artinya beriman dalam Islam itu berdasarkan pada akal, dan ilmu ‘aqliyah itu bertujuan untuk beriman.

Dalam hal tadi Nabi menegaskan bahwa:
من ازداد علما ولم يزدد هدى لم يزدد من الله إلابعدا
Barangsiapa tambah ilmunya, tapi tidak tambah petunjuknya, maka ia akan tambah jauh dari Allah  (al-hadīth).

Hadits ini dapat diartikan begini: berangsiapa ilmunya tidak mengandung iman maka bertambahnya ilmu hanya akan menambah kesesatan. Logikanya, karena ‘ilm itu mengandung iman dan sebaliknya, maka sudah barang tentu bertambahnya ‘ilm itu akan menambah kekuatan iman.
Logika seperti ini akan lebih mudah difahami jika dibandingkan dengan kredo Katholik. Bagi mereka keimanan adalah asas dari pemahaman credo ut intellegam (saya beriman supaya saya faham). Tapi dalam Islam pemahaman yang menggunakan akal fikiran itu adalah asas keimanan. Maka dari itu ilmu dalam Islam adalah prasyarat iman, mencapai umur akil baligh adalah presyarat berislam. Non-Muslim yang baligh dapat masuk Islam setelah mamahami Islam, dan tidak boleh dipaksa. Maka kredo tersebut bagi Muslim harus dibalik menjadi intellego ut credam (saya faham supaya saya beriman).
Untuk mengetahui bagaimanakah proses berfikir dan beriman itu, perlu tahu pula kompleksnya perangkat jiwa manusia dalam Islam.
Dalam Islam terdapat nafs (jiwa), shodr (dada), ‘aql (akal ), qalb (hati), Fu’ad (nurani), al-Lubb (akal fikiran yang beriman) dan lain sebagainya.

Dikatakan qalb (hati) itu diibaratkan sebagai mata, sadr adalah putih mata, fu’ad adalah hitamnya pupil mata sedangkan lubb adalah cahaya mata. Itu semua disebut nafs sebagai potensi utamanya. Di dalam jiwa terdapat potensi qalb dan di dalam qalb terdapat shodr. Jika diibaratkan sebuah struktur kekuasaan qalb itu adalah raja dan jiwa itu adalah kerajaannya. “Jika rajanya baik – seperti sabda Nabi – maka baiklah bala tentaranya dan jika rusak maka rusaklah bala tentaranya”. Demikian pula baik-buruknya jasad itu tergantung pada hati (qalb). Hati (qalb) itu bagaikan lampu dan baiknya suatu lampu itu terlihat dari cahanya. Maka cahaya hati adalah ketaqwaan dan keyakinannya.

Sekarang marilah kita cermati dimanakah letak ilmu itu dalam diri manusia. Secara umum   al-Imam al-Ghazalī menyatakan bahwa:
“ilmu adalah kehadiran makna sejati dari benda-benda – dan segala kualitas, kuantitas, substansi dan esensi benda-benda itu – dalam jiwa yang tenang dan rasional.

Definisi al-Imam al-Ghazalī ini mirip dengan definisi para ulama sezamannya. Dalam tradisi Islam ilmu diartikan sebagai sampainya makna kedalam fikiran dan sampainya fikiran kedalam makna. Ini mengindikasikan bahwa jiwa yang dimaksud al-Ghazalī adalah fikiran. Berarti ilmu itu berada di dalam jiwa, tapi jiwa sendiri memilki bagian-bagian yang tak terpisahkan dan saling berhubungan.

Berkaitan dengan letak ilmu al-Qur’an menjelaskan bahwa alat untuk memahami sesuatu adalah qalb:
ولقد ذرأنا لجهنم كثيرا من الجن والإنس لهم قلوب لا يفقهون بها ولهم أعين لا يبصرون بها ولهم آذان لا يسمعون بها أولئك كالأنعام بل هم أضل أولئك هم الغافلون
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (al-A’raf 179).
Namun, sebagian ulama menjelaskan bahwa tempat masuknya cahaya ilmu (termasuk ajaran Islam) adalah shodr. Ketika seseorang kita anggap sedang “berfikir” yang pertama-tama bekerja adalah shodr. Shadr adalah pintu masuk segala sesuatu ke dalam diri manusia termasuk nafsu amarah, nafsu birahi, cita-cita, keinginan. Akan tetapi shodr itu juga tempat masuknya ilmu yang datang melalui panca indera, termasuk khabar. Maka dari itu pengajaran, hafalan, dan pendengaran itu berhubungan dengan shodr. Dinamakan shodr karena merujuk kepada kata shodaro (muncul), atau shodr (pusat).

Menurut sebagian ulama shodr menerima informasi awal dari segala sesuatu dan kemudian fuad memprosesnya. Di dalam fuad inilah tempat cahaya ma’rifah, ide, pemikiran, konsep dan pandangan. Kerja-kerja fuad itu kemudian dilimpahkan kepada qalb. Qalb adalah juga tempat bersemayamnya cahaya Iman, cahaya kekhusyu’an, ketaqwaan, kecintaan, keridhaan, keyakinan, ketakutan, harapan, kesabaran, kepuasan. Artinya qalb bisa berfungsi sebagai tempat iman dan juga sebagai tempat ilmu.

Informasi yang masuk kedalam qalb itu kemudian diproses di tempat yang paling tinggi yaitu lubb. Arti lubb yang sebenarnya adalah akal pikiran yang beriman. Ulul Albab adalah orang yang berakal fikiran tauhidi, maka lubb adalah tempat cahaya ketauhidan. Disini jelas bahwa kita tidak bisa berfikir tanpa melibatkan aspek-aspek kejiwaan lainnya.

Jadi jika seseorang berfikir dan pada saat itu ia membuang jauh-jauh keimanannya, maka besar kemungkinan fu’ad, qalb dan lubb orang tersebut tidak digunakan, alias menganggur. Fikirannya tidak membawanya lebih dekat dengan Tuhannya. Segala amal perbuatannya menjadi bukan untuk ibadah. Buah fikirannya tidak memancarkan cahaya, karena cahaya ilahi tidak akan pernah masuk kedalam fikiran orang yang tidak niat untuk beribadah, tapi terjerumus kedalam kubangan maksiat.

Padahal dalam Islam segala aktifitas seorang Muslim, ilmiyah atau non ilmiyah adalah lillah untuk ibadah demi mencapai mardhatillah sehigga akhir perjalanan pemikirannya dapat mencapai hikmah. Barangsiapa dikarunia Allah suatu hikmah, maka ia telah dikaruniai kebaikan yang berlimpah.
Wallohu a’lamu bis showab.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
back to top