Kamis, 10 Agustus 2017

REFLEKSI MINGGU KE-4 HMS. HABIBY MUI CISARUA

Tidak ada komentar:
Tgl Penyerahan : 12 AGUSTUS 2017       
Nama : H. MUHAMMAD SYUKRON HABIBY
Utusan : MUI Kecamatan CISARUA
Mata Kuliah : -
Dosen : -
Jenis Tugas : REFLEKSI
Tanggal Materi : 5 AGUSTUS 2017



MANUSIA SUBJEK vs MANUSIA OBJEK, SEBUAH PILIHAN
Mungkin diantara kita pernah mengalami satu masa dimana kita merasa paling menderita atas persoalan-persoalan yang tengah dihadapi. Dan perasaan itu bisa terjadi kapan saja. Merasa paling tidak beruntung, merasa didzalimi, merasa tidak mendapatkan penghargaan yang setimpal, merasa kecewa atas respon orang lain yang tidak sesuai ekspektasi. Saya pun pernah merasa begitu, bahkan sering.
Perasaan tersebut muncul lebih didorong karena kita terlalu buru-buru memposisikan diri sebagai objek. Karenanya, objek selalu menempatkan pada kondisi ketidakkuasaan diri atau dalam istilah lain “given”. Objek ditempatkan sebagai akibat. Sehingga apapun yang menimpa diri adalah karena faktor di luar diri, atau karena akibat ulah orang lain. Contoh, sakit hati karena ucapan dan sikap orang lain yang tidak membuat diri bekenan. Kecewa karena respon balik atau feedback orang lain tidak sesuai ekspektasi diri. Marah karena orang lain tidak sependapat dengan keyakinan diri.
Saya menyebutnya sebagai “manusia objek”. Manusia objek selalu sibuk mengamati perilaku orang disekitaran daripada melakukan penempatan diri. Manusia objek lebih sibuk berkonflik bathin pada saat berada diantara masyarakat  yang beragam.
Jarang dari kita menyadari bahwa hakikat diri ini adalah sebagai subjek. Subjek adalah penentu dari sebuah kejadian atau peristiwa. Subjek adalah penentu terciptanya “predikat”. Subjek adalah “sebab” yang menimbulkan “akibat”.
Banyak dari kita yang kadang-kadang mengalami suatu kondisi kesulitan lebih karena merupakan akibat dari perbuatan-perbuatan di masa lalu. Dosa-dosa kita di masa lalu boleh jadi menjadi penghambat diri saat ini. Kesulitan rezeki, menurunnya kesehatan, prahara rumah tangga, sulitnya mendapatkan rekanan yang tulus dsb adalah bukan karena faktor orang lain, kalaupun ada mungkin porsinya tidak lebih dari 1%. Kesalahan-kesalahan kita dimasa lalu boleh jadi belum sempat kita lantunkan kalimat taubat dan komitmen diri.
Marilah kita memilih menjadi manusia subjek, manusia yang penuh penyadaran atas setiap kejadian. Manusia yang penuh dengan kebijaksaan dan hikmah. Manusia yang senantasa berkaca dari peristiwa di masa lalu untuk selalu memperbaiki diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
back to top