Tanggal Penyerahan : 19 AGUSTUS 2017
Nama : H. MUHAMMAD SYUKRON HABIBY
Utusan : MUI Kecamatan CISARUA
Mata Kuliah : Media Masa dan Kebebasan Informasi
Dosen : Hazairin Sitepu - 08121104448
Jenis Tugas : RESUME
Tanggal Materi : 12 AGUSTUS 2017
FENOMENA HOAX
Dunia sedang mengalami revolusi besar di bidang teknologi informasi. Revolusi ini memberikan impact kepada kehidupan sosial, ekonomi, agama dll. Dampak dari revolusi besar ini bisa positif, bisa negatif bergantung pada sikap dan peran kita. Agama memiliki peran yang paling penting dalam menghadapi revolusi teknologi informasi.
Fenomenda Dekadesi yakni penurunan nilai-nilai kepatuhan norma sosial kini semakin menggejala. Nilai-nilai positif semakin tergerus, mulai dari level yg paling bawah, yakni keluarga. Sikap penghormatan terhadap orang tua, bertentangga, interaksi sosial, budaya-budaya lokal dsb telah mulai luntur. Fenomena individualistis dipengaruhi oleh perkembangan gadget sebagai life style. Segala informasi dapat di akses dan diterima, tidak terkecuali informasi dan berita hoax.
Hoax adalah informasi yg tidak atau belum dapat dipertanggungjawabkan pembuktian hukum dan kebenarannya. Saat ini hoax telah menggejala dan semakin mengkhawatirkan, karena berita-berita hoax yg cenderung provokatif. Setiap orang dapat langsung akses dan turut menyebarluaskan tanpa adanya pertanggungjawaban pembuktian atas kebenarannya.
Bagaimana peran Agama dan Ulama?
Islam telah mengajarkan tentang bagaimana sikap tatkala menerima berita. Dalam surat Al Hujurat Ayat 6, sbb:
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang seorang fasiq dengan membawa suatu informasi maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena suatu kebodohan, sehingga kalian menyesali perbuatan yang telah kalian lakukan”
Sebagaimana turunnya Surat Al-Hujurat Ayat 6 atas kisah suku Al Musthaliq yang dipimpin oleh Al Harits bin Dlirar. Nabi memerintahkan tabayun ketika mendapati informasi negatif terhadap Al Harits. Sehingga kebenaran terkonfirmasi dan terhindar dari provokasi yang salah. Nabi memerintahkan bertabayun, karena apabila tidak maka akan terjadi musibah bagi kaum yang diberitakan tersebut juga memicu perpecahan dan peperangan.[]
Tanggal Penyerahan : 19 AGUSTUS 2017
Nama : H. MUHAMMAD SYUKRON HABIBY
Utusan : MUI Kecamatan CISARUA
Mata Kuliah : Tasawuf dan Tauhid
Dosen : KH Husnudin
Jenis Tugas : Resume
Tanggal Materi : 12 AGUSTUS 2017
Hikmah ke 16
“Tidaklah meninggalkan sedikitpun dari kebodohan (bodoh sekali) bagi orang yg menginginkan terjadi pada saat ini selain dari yg Allah nampakkan saat ini”
Artinya, sungguh teramat bodoh bagi seseorang yang mengadakan sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Allah. Karena, tidak suatu masa pun yang berjalan melainkan di situ pasti ada takdir Allah yang dilaksanakan.
Hikmah ke 17
“Menunda amal perbuatan [kebaikan] karena menanti kesempatan lebih baik, suatu tanda kebodohan yang mempengaruhi jiwa”
Artinya, menunda kesempatan dalam beramal baik adalah perbuatan bodoh, karena momentum tersebut di waktu yg lain bisa jadi berada pada level yang berbeda atau bahkan tidak kembali datang sama sekali karena lebih didahului oleh datangnya kematian.
Hikmah ke 18
“Jangan engkau meminta kepada Allah supaya dipindahkan dari suatu masalah kepada masalah yang lain, sebab bila Allah menghendakinya tentu telah memindahkanmu, tanpa merubah keadaan yang terdahulu”
Allah menjadikan manusia dengan segala kebutuhannya, sehingga manusia tidak perlu khawatir, ragu dan jemu terhadap suatu takdir pemberian Allah. Walaupun terkadang berbentuk penderitaan pada lahirnya, namun hakikatnya adalah sebuah kenikmatan, tentu bagi yang mengetahui hakikatnya. Sebab tidak ada sesuatu yang tidak muncul dari rahmat Allah.
Hikmah ke 19
“Tiada kehendak dan semangat seorang salik [yang mengembara menuju kepada Allah] untuk berhenti ketika terbuka baginya sebagian yang ghaib, melainkan diperingatkan oleh suara hakikat. Bukan itu tujuan, dan teruslah mengembara berjalan menuju ke depan. Demikian pula tiada tampak baginya keindahan alam, melainkan diperingatkan oleh hakikatnya: Bahwa kami semata-mata sebagai ujian, maka janganlah tertipu hingga menjadi kafir”
Seorang salik akan selalu mengabaikan manusia dan dunia, kecuali manusia yang senantiasa mengajak kepada kebajikan. Segala bentuk yang tampak mata termasuk gemerlapnya dunia adalah ujian yang dapat menipu dan menghantarkan kepada kekufuran. Menjadi penting untuk selalu merasa berada dekat di sisi Allah dan tidak berhenti pada suatu tujuan apapun selain kepada kebesaran ridha Allah.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar