Selasa, 15 Agustus 2017

REFLEKSI MINNGU KE-5 C. BUSTOMI MUI DRAMAGA

Tidak ada komentar:
Puncak Eksistensi Manusia
Bismilaahirrahmaanirrahiim
Seringkali ketika seseorang melakukan kesalahan terhadap orang lain, sedikit banyaknya akan merasa “tidak enak” dan “malu” lalu kemudian meminta maaf dan selanjtunya memperbaiki dirinya. Atau dalam contoh yang lebih luas, ketika seseorang melakukan korupsi, ia akan cenderung bersembunyi dari lingkungan umum dan media karena merasa “malu” dan “takut ditangkap” penegak hukum akibat tindakan yang telah dilakukannya. Tapi berbeda dengan orang yang telah melakukan kebaikan atau berbagi. Ia akan merasa “senang” dan kadang “ingin diekspos” ke khalayak umum agar masyarakat mengetahui kebaikan yang telah dilakukannya.

            Dari analogi ini sebenarnya bisa ditarik sedikit kesimpulan bahwa, ketika seseorang memberikan kemanfaatan kepada orang lain maka disaat yang sama ia merasa bahwa ia “ada” dan ke”ada”an tersebut sedikit banyaknya terkadang ingin diketahui oleh orang lain. Selain itu, ketika seorang manusia bisa memberi manfaat kepada orang lain, maka disaat yang sama pula, akan muncul sense of happiness sebagai bentuk kebahagiaan karena bisa “memberi” kepada orang lain.  dan dengan “memberi” inilah sesungguhnya puncak dari kebahagiaan tertinggi didapat.

Seperti halnya atlet, puncak keberhasilan tertinggi adalah ketika ia mempersembahkan mendali emas olimpiade bagi negaranya. Ternyata, puncak keberhasilan dari seorang atlet ini adalah dengan “memberikan” prestasi tertinggi bagi negaranya. Sejalan dengan itu, kebahagiaan dari pohon kelapa adalah ketika ia bisa memberikan air segarnya kepada manusia, memberika batang pohonnya untuk dijadikan pondasi atap rumah manusia untuk berteduh, memberikan akar-akarnya untuk dibuat kerajinan tangan untuk dijadikan hiasan sebagai keidahan estetika dirumah yang dihuni oleh manusia.

            Suatu hari, sayyiina ‘Ali R.A bertanya kepada muridnya, “Kalau di tangan saya ada uang sepuluh dirham, lalu saya sedekahkan tiga dirham, berapa sisa uang saya?”, lalu muridnya menjawab, “Masih tujuh dirham ”. “ Salah ! ”, sahut sayyidina ‘Ali “Yang benar, uang saya tiga puluh dirham. Mengapa? Karena apa yang saya sedekahkan itulah yang abadi dan tercatat sebagai amal soleh, sedangkan selebihnya belum pasti ”.
مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَاۖ وَمَن جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (Al-An’am : 160)

Harta adalah sesuatu yang melekat pada seorang manusia. Ketika ada seorang manusia mengaku mempunyai uang deposito bernilai milyaran rupiah dengan segala kemewahan yang ada, maka disaat yang sama patut dipertnyakan, sudahkah itu melekat pada seorang yang kaya tersebut ?.

            Untuk itu, harta yang banyak bukan untuk “dibanggakan”, tetapi untuk “ditaklukan” dengan memberikan kemanfaatan kepada orang lain. Tidaklah heran jika Nabi Muhammad S.A.W mengatakan pada ummatnya bahwa ketika seorang manusia meniggal dunia hendaknya mewariskan ilmu yang bermanfaat bagi manusia, harta kekayaan yang dibelanjakan untuk kemaslahatan ummat, dan anak atau generasi yang soleh. Dari ketiga hal tersebut, dapat dikerucutkan kepada satu hal penting yang menjadi acuan puncak eksistensi manusia, yaitu dengan memberi.

“خير الناس أنفعهم للناس”
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”


والله أعلم بالصواب




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
back to top