Puncak Eksistensi Manusia
Bismilaahirrahmaanirrahiim
Seringkali ketika seseorang melakukan kesalahan terhadap orang lain,
sedikit banyaknya akan merasa “tidak enak” dan “malu” lalu kemudian meminta maaf
dan selanjtunya memperbaiki dirinya. Atau dalam contoh yang lebih luas, ketika
seseorang melakukan korupsi, ia akan cenderung bersembunyi dari lingkungan umum
dan media karena merasa “malu” dan “takut ditangkap” penegak hukum akibat
tindakan yang telah dilakukannya. Tapi berbeda dengan orang yang telah
melakukan kebaikan atau berbagi. Ia akan merasa “senang” dan kadang “ingin
diekspos” ke khalayak umum agar masyarakat mengetahui kebaikan yang telah
dilakukannya.
Dari analogi ini sebenarnya bisa
ditarik sedikit kesimpulan bahwa, ketika seseorang memberikan kemanfaatan
kepada orang lain maka disaat yang sama ia merasa bahwa ia “ada” dan ke”ada”an
tersebut sedikit banyaknya terkadang ingin diketahui oleh orang lain. Selain
itu, ketika seorang manusia bisa memberi manfaat kepada orang lain, maka disaat
yang sama pula, akan muncul sense of happiness sebagai bentuk kebahagiaan
karena bisa “memberi” kepada orang lain.
dan dengan “memberi” inilah sesungguhnya puncak dari kebahagiaan
tertinggi didapat.
Seperti halnya atlet, puncak keberhasilan tertinggi adalah ketika ia
mempersembahkan mendali emas olimpiade bagi negaranya. Ternyata, puncak
keberhasilan dari seorang atlet ini adalah dengan “memberikan” prestasi
tertinggi bagi negaranya. Sejalan dengan itu, kebahagiaan dari pohon kelapa
adalah ketika ia bisa memberikan air segarnya kepada manusia, memberika batang
pohonnya untuk dijadikan pondasi atap rumah manusia untuk berteduh, memberikan
akar-akarnya untuk dibuat kerajinan tangan untuk dijadikan hiasan sebagai
keidahan estetika dirumah yang dihuni oleh manusia.
Suatu hari, sayyiina ‘Ali R.A
bertanya kepada muridnya, “Kalau di tangan saya ada uang sepuluh dirham,
lalu saya sedekahkan tiga dirham, berapa sisa uang saya?”, lalu muridnya
menjawab, “Masih tujuh dirham ”. “ Salah ! ”, sahut sayyidina ‘Ali “Yang
benar, uang saya tiga puluh dirham. Mengapa? Karena apa yang saya sedekahkan
itulah yang abadi dan tercatat sebagai amal soleh, sedangkan selebihnya belum
pasti ”.
مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ
عَشْرُ أَمْثَالِهَاۖ وَمَن جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا
وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Barangsiapa
membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan
barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan
melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya
(dirugikan). (Al-An’am : 160)
Harta adalah sesuatu yang melekat pada seorang manusia. Ketika ada
seorang manusia mengaku mempunyai uang deposito bernilai milyaran rupiah dengan
segala kemewahan yang ada, maka disaat yang sama patut dipertnyakan, sudahkah
itu melekat pada seorang yang kaya tersebut ?.
Untuk itu, harta yang banyak bukan
untuk “dibanggakan”, tetapi untuk “ditaklukan” dengan memberikan kemanfaatan
kepada orang lain. Tidaklah heran jika Nabi Muhammad S.A.W mengatakan pada
ummatnya bahwa ketika seorang manusia meniggal dunia hendaknya mewariskan ilmu
yang bermanfaat bagi manusia, harta kekayaan yang dibelanjakan untuk
kemaslahatan ummat, dan anak atau generasi yang soleh. Dari ketiga hal
tersebut, dapat dikerucutkan kepada satu hal penting yang menjadi acuan puncak
eksistensi manusia, yaitu dengan memberi.
“خير الناس أنفعهم للناس”
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”
والله أعلم بالصواب
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”
والله أعلم بالصواب

Tidak ada komentar:
Posting Komentar