|
Tgl
penyerahan : 28 Oktober
2017
Nama : C. Bustomi
Utusan : MUI Kec. Dramaga
Mata
Kuliah : --
Dosen : --
Jenis
Tugas : Refleksi
Tgl Materi : 21 Oktober 2017
___________________________________________________________________________________
|
Islam Agama Tauhid
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Ketika memandang indahnya alam
semesta, gunung yang tinggi, lautan yang
luas. Maka manusia akan merasa tenang, ini sudah menjadi fitrah manusia. Alam
merupakan manifestasi Allah SWT, termasuk manusia adalah manifestasi-Nya jua.
Keberadaan semua itu memaksa manusia harus mengakui adanya pencipta yang tidak
diciptakan. Apakah mungkin alam yang begitu teratur ini, tersusun dengan
sempurna ada begitu saja. Jika dipersepsikan bahwa alam ada dengan sendirinya.
Argumentasi seperti itu sangat tidak masuk akal, karena tidak sesuai dengan
teori yang sebenarnya. Di sini juga tidak terlepas dari hukum sebab-akibat.
Alam sebagai akibat sedangkan sebagai sebab utama adalah Allah SWT.
Dengan demikian tidak ada alsan
bagi manusia untuk tidak mengukuhkan satu pencipta dalam jiwanya. Dalam
filsafat Islam, alam, manusia dan segala sesuatu yang ada di sekitar kita
merupakan manifestasi Allah SWT ini sesuai dengan teori manisfestasi Ibnu ‘Arabi.
Atau dalam filsafat Mulla Shadra bahwa hal ini merupakan satu konsep
gradasi. Sama halnya dengan cahaya yang
menghasilkan terang, sehingga memiliki tingkatan terang. yaitu sangat terang,
cukup terang, tidak terang dan sangat tidak terang. Dan melalui teeori
keteraturan, memberikan salah satu argumen yang cukup kuat untuk membuktikan
eksistensi dari pencipta.
لَوْ كَانَ
فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚفَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ
الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ
“Sekiranya
ada di langit dan di bumi Tuhan-tuhan selain Allah. Tentulah langit dan bumi
telah rusak, Maka Maha Suci Allah yang mempunyai `Arsy daripada apa yang
mereka sifatkan..”
(QS. Al-Anbiya: 22)
Tidak bisa dibayangkan apa jadinya, jika
segala sesuatu masing-masing mempunyai Tuhan sendiri-sendiri. Langit ada
tuhannya, tanah ada tuhannya, laut ada tuhannya, binatang atau hewan mempunyai
tuhan, manusia juga mempunyai tuhan sendiri. Maka yang didapati bumi tidak akan
bisa berputar sebagaimana yang sedang kita saksikan sekarang, pastilah bumi ini
hancur, karena masimg-masing dari tuhan mereka yang akan mengatur. Bilah
terjadi ketidaksesuaian keinginan di antara tuhan-tuhan itu, akan berdampak buruk
bagi alam dan seisinya. Sebagai contoh jika tuhan tanah ingin mensuburkan
tanahnya sedangkan tuhan hujan tidak menginkan hal itu. Tetap saja tanah akan
kering, karena tidak tersirami oleh air.
Muncul pertanyaan “bagaimana jika
tuhan-tuhan tersebut saling mengerti, karena memahami mereka saling
membutuhkan”. Tanpa menjawab sebenrnya sudah terjawab dengan sendirinya.
Kenapa? Sebagaimana yang kita pahami Tuhan itu maha segala-galanya. Dan
pertanyaan tersebut di atas tidak sesuai, sebagaimana yang kita ketahui Tuhan
tidak butuh terhadap yang lain. Jika alasannya hanyalah karena Tuhan-itu tidak
bodoh mereka sangat cerdas, sehingga menghindari perselisihan. Lantas apa
bedanya manusia dengan Tuhan yang dinisbatkan sebagai pencipta segala sesuatu.
Sejak mata mulai menyaksikan dunia, kita
sudah mulai memperhatikan sistem alam semesta. Berbagai macam keunikan
ciptaan-ciptaan yang menjadi pemandangan indah membuat kita kagum dengannya.
Kemudian kita berbuat sesuatu untuk mempertahankan diri, agar bisa tetap hidup,
berusaha untuk beradaftasi dengan alam. Di kala lapar dan minum, maka kita
tidak berpikir lama untuk makan dan minum. Di saat panas, maka kita akan
mencari tempat yang sejuk untuk berteduh. Dapat dikatakan bahwa tindakan
tersebut mengikuti pemikiran, sedang pemikiran mengikuti sistem kehidupan.
Adanya berbagai macam ciptaan Tuhan
yang tampak dalam pandangan kita ini. Tentunya tindak sama dengan pemikiran
manusia berawal dari konsep-konseps. Karena Tuhan tidak melakukan hal seperti
manusia, Dia memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menciptakan apapun yang
dia inginkan.Tidak ada satupun hukum yang dapat mengikat atau mebatasinya. Dia
Maha sempurna yang tidak butuh apapun, namun segala sesuatunya adalah miliknya
dan bergantung kepadannya.
والله أعلم بالصواب
Tidak ada komentar:
Posting Komentar