MENCETAK ULAMA BERWAWASAN GLOBAL
Sebuah Resume Dari Pemateri Prof. Der. Soz. Gumilar Rusliwa Somantri
Profil
Prof. Gumilar mengambil gelar S1 dan S3 Sekaligus di Jerman dengan lulusan tercepat dan terbaik. ketekunan dan filosofi gelas kosong adalah kunci dalam mengejar ketertinggalan. beliau selalu disiplin membaca buku setiap hari dari jam 9 pagi hingga jam 12 malam.
081288340005
Fb: gumilar somantri
IG: gummilarsomantri
PENGANTAR
Ulama dari akar kata alima, ilmu, merujuk kepada orang2 berilmu. Ilmu di sini bukan berarti yang bersifat statis, yakni yg turun temurun tanpa melihat konteks kekinian. Ilmu menuntut sebuah perkembangan yang dinamis sesuai dengan tuntutan zaman.
Al Quran, Hadis dan pendapat-pendapat ulama merupakan rujukan hukum adl alquran. Kalau dulu pendapat-pendapat ulama tertulis dalam kitab-kitab kuning, maka saat ini banyak pendapat-pendapat ulama yg dituliskan dalam media digital, bahkan banyak yang sudah dimodifikasi ke dalam bahasa inggris, paper dsb.
Peradaban panjang di bumi ini berkembang dr zaman batu, berburu, bercocok tanam hingga termodifikasi ke dalam perdagangan. dan saat ini semakin berkembang dg laju yg cepat.
sekedar contoh, komputer pada th 90-an merupakan barang baru. Komputer baru ditemukan setelah perang dunia 2, oleh ilmuan Yahudi, yakni org yg mampu memecahkan sandi perang jerman/rusia. Dia kemudian kembali ke kampus dan mengembangkan komputer, dr ukuran besar dg aplikasi yg masih sederhana. Dan pada pertengahan hingga akhir tahun 90an sudah berkembang sedemikian rupa dg ukuran kecil.
Membaca dengan disiplin dan tekun serta memegang filosofi gelas kosong adalah kunci mengejar ketertinggalan. Menurut literatur, kemampuan konsentrasi manusia rata2 tidak lebih dari 15 menit.
Cara mensiasati, setiap membaca selalu menuliskan point penting (penulisnya siapa, buku apa, penerbitnya), pakai karton kecil. Selama 6 bulan sudah membaca referensi sebanyak 17 halaman (ratusan buku)
Sementara menulis itu kuncinya, duduk, fokus, dihadapi.
Dalam menempa diri sbgai ulama, kebenaran hrs disambut dg kerja keras, juga dg doa dr ortu dan kita. Tidak pernah putus sholat 5 waktu, dalam keadaan apapun serta tidak lepas dr tadarus Alquran.
Apapun profesi yang diambil, jangan setengah setengah. Jadilah ulama yg mau setiap saat mengembangkan diri.
Salah satunya, mengajar dg persiapan. Memberi ceramah dg persiapan. Membaca Koran, buku, banyak mendengar, berdiskusi.
Jangan tanggung2 bila masuk arena. Jadilah ulama yg hebat sekalian.
INTI PERKULIAHAN
Ulama akan selalu sentral dalam masyarakat islam, tentu kita memerlukan hadirnya ulama2 yg meguasai ilmu alquran, ilmu tafsir, ahli hadis dan sanat yg baik serta berwawasan sangat luas. Kalau ulama yg spt itu hadir ditengah2 peradaban yg berubah begitu cepat seiring dinamisnya sain dan teknologi, islam akan menjadi cahaya yg menyebar di selruh pelosok bumi. Islam tidak mungkin lekang dr zaman, karena seluruh penemuan sudah termaktub dalam alquran. Jadi ulama harus selalu memiliki kemampuan mengembangkan diri.
Kedua, ulama harus memiliki kebijaksanaan dalam memahami keragaman manusia. Ulama yg memahami kebijaksanaan, tidak akan menimbulkan keterpecahaan. Menyikapi perbedaan dg bijaksana.
Ketiga, disadari bahwa Allah menciptakan manusia berbeda2 dg suku ras yg beragam supaya saling kenal, walau Allah sangat mudah menjadikannya 1 Ragam seluruh mahluk-Nya. Sehingga agar tidak saling membenci. Walau genetiknya, rasnya berbeda, tapi kita berasal dr sumber ruh yg sama. Seringkali banyak kita temui ulama yg sempit pikirannya, mengkafirkan yg lain. Sikap fanatik akan menciptakan skeptik bagi orang lain.
ASPEK SOSIOLOGIS
Kedepan akan mengalami terjadinya perubahan yg luar biasa dahsyat. Peradaban manusia akan terbentuk suatu format yg sangat berbeda. Kalau saat ini merupakan era ketergantungan terhadap energy minyak, maka akan terjadi suatu era ketergantungan kita terhadap energy minyak bumi tidak lagi terjadi.
hal ini sudah mulai dirintis oleh negara-negara maju dalam menciptakan teknolgi kinetis penyimanan energy dalam sebuah battery. Sumber Browsing: Ghost cities in china.
Hal ini di duga untuk meyambut kebutuhan engery suatu Negara ampai dengan 50 tahun ke depan.
Kita harus menjadi ulama yg tanggap atas perubahan. Motor kapitalisme adalah ekspansi pasar.
Ulama yg berwasawan global, mempelajari keilmuan dari basic sampai tuntas.
Ulama berwawasan global adalah menempa diri. Membaca Koran, meihat berita, memiliki kemapuan artikulasi yag baik, kemapuan IT terkini, kemampuan bahasa asing, kemampuan presentasi dan keluasan jaringan.
Ulama berwawasan global paham betul bahwa keanekaragaman menjadi hal keniscayaan yg tdk bisa dihindari. Sehingga kebijaksanaan harus tertanam sejak dini di benak seorang Ulama. Karena, wajah islam didunia sangat tergantung dari perilaku umat islam, khususnya ulamanya.
Presented by H. Muhammad Syukron Habiby
Utusan MUI Cisarua
Ulama adalah Pewaris Nabi sekaligus Kepercayaan Rosul
Sebuah Resume Dari Pemateri KH Sanusi Azhari
Profil
KH Sanusi Azhari Lahir di Bogor tahun 1942. Saat ini usia 75 tahun. Dibesarkan di lingkungan pesantren, di Cilendek Bogor yang didirikan oleh Kakeknya. Kyai Sanusi Mengaji sejak umur 5 tahun bersama para santri Ayahnya. Lulus Sekolah Rakyat tahun 1956, tamat SMP 1959 kemudian masuk PP Gontor dan lulus pada tahun 1964.
Selepas lulus dari dunia pendidikan, Kyai Sanusi Kerja di Kab Bogor sebagai Panitera, yaitu bagian mencatat Haji. Atas saran dari Ayahnya, Kyai Berhenti bekerja, lalu masuk ke Pesantren Lontar (6 bulan) belajat tafsir Alquran. selanjutnya masuk IAIN Syarif Hidayatullah pada Syariah.
Kemudian Kyai kerja di Departemen Agama pada bagian penerangan Agama. Tidak lama kemudian pindah menjadi guru agama di PGA Cibinong, setahun kemudian menjadi kepala sekolah, 3 tahun kemudian menjadi penilik Agama.
Beliau pernah menjadi anggota dewan dari Partai Golongan Karya selama 3 periode, menjd ketua MDI Kab bogor, dan Ketua MUI Kab Bogor selama 2 periode, bahkan tercatat sebagai ketua MUI termuda di Provinsi Jawa Barat.
“Ponitnya, jangan berkecil hati menjadi kiai, Rezeki pasti datang”, tegas beliau.
INTI MATERI
Ulama akan menjadi pewaris Nabi, “al ulama’u warotsatul anbiya”
Sekaligus Ulama a
kan menjadi kepercayaan Rosul, “al ulama’u umanurrusul”
Manusia tidak akan tersesat selama-lamanya, kalau berpegang pada yg dua, yaitu Al Quran dan Sunnah.
Menjadi Ulama itu selain menguasai seluruh kaidah-kaidah Fiqih, Ilmu alat, juga memiliki keluasan wawasan serta akhlak yang terjaga.
Presented by H. Muhammad Syukron Habiby
Utusan MUI Cisarua
IJTIHAD dan TAQLID
Sebuah Resume Dari Pemateri Kyai Ahmad Maksudi
Profil
Kyai Ahmad Maksudi, lahir di Bogor pada tahun 1978. Beliau merupakan alumni PKU 1 dan saat ini menjabat MUI Kecamatan Megamendung
IJTIHAD
Pengertian Ijtihad secara secara bahasa adalah mengerahkan segala kemampuan. Sementara istilah Ijtihad lebih sering diartikan sebagai sebuah tindakan sungguh-sungguh dari seorang ahli fiqih (fuqoha) dalam upaya menghasilkan prediksi syariat hukum.
Sehingga, Ijtihad dapat diartikan sebagai upaya sungguh-sungguh dengan mengerahkan segala kemampuan, baik sumber daya maupun petunjuk ilmu pengetahuan demi utk mencapai sebuah hukum tertentu. Dan hukum yg dihasilkan oleh prosesi Ijtihad tersebut tidak memiliki kebenaran mutlak, krn hanya dlm bentuk persangkaan atau praduga yang lebih dikenal dengan “dzon” .
Mujtahid adalah seseorang yang menguasai keilmuan Al Quran dan Hadis secara menyeluruh baik teks (matan) maupun konteks makna penafsirannya, menguasai dalil-dalil qiyashi serta pemahaman yang baik terhadap sisi sosial kemanusian.
Mujtahid Muthlaq adalah seorang mujtahid yang hasil ijtihadnya dijadikan sandaran hukum secara mutlak. Dalam hal ini dikenal sebagai Imam Madzhab empat, yakni Maliki, Hanafi, Hambali dan Syafi’i.
Sejak tahun 300 H, fase Mjutahid telah terputus. Walaupun pandangan berbeda datang dari Imam As Suyuthi, yang berpendapat bahwa fase Mujtahid akan ada sampai akhir zaman. Iman As Suyuthi mendasarkan pada dalil yang berbunyi “Allah akan mengutus orang yang baru untuk urusan Agama dalam setiap tahunnya”.
Pendapat tersebut ditolak oleh jumhur (sebagian besar) ulama, di mana jumhur ulama memaknai orang baru yang diturunkan Allah dalam urusan agama adalah orang yang menetapkan hukum syariat, bukan seseorang Mujtahid Muthlaq.
Sehingga orang baru yang maksud adalah Mujtahid Madzhab, yakni seorang Mujtahid yang menggali hukum-hukum dari kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh Mujtahid Muthlaq, dalam hal ini seperti Imam Mazani yang mendasarkan kepada Imam Madzhab empat yakni Imam Syafi’i.
Orang baru yang dimaksud tersebut juga bukan dalam arti Mujtahid Fatwa. Mujtahid Fatwa adalah seorang yang memiliki kemampuan dalam “mentarjih” sebuah hukum hasil pendapat-pendapat ulama. misalnya mentarjih pendapatnya Imam An-Nawawi dan Imam Ar-Rofi’i.
Bahkan sekaliber Imam Ibnu Hajar dan Imam Romli saja tidak dikategorikan sebagai Imam Fatwa, karena keduanya tidak sampai pada “level tarjih”, namun sebagai ulama yang bertaqlid saja.
TAQLID
Pengertian taqlid adalah sebuah perbuatan mengikuti pendapat Mujtahid tanpa memiliki pengetahuan mendalam terhadap dalil-dalil yang mendasarinya. Orang yang bertaqlid dinamakan sebagai Muqollid. Hukum bertaqlid adalah wajib bagi selain Mujtahid. Sedangkan bagi Mujtahid haram hukumnya bertaqlid. Hal ini sebagaimana kaidah “Sesungguhnya Mujtahid tidak boleh bertaqlid kepada Mujtahid lainnya”.
Seorang muqollid dalam bertaqlid diperbolehkan memilih salah satu dari empat madzhab. Seorang muqollid juga diperbolehkan berpindah madzhab, sepanjang masih ke dalam cakupan empat madzhab sesuai kebutuhan yang dipersyaratkan.
Sebagian besar ulama (Jumhur ulama) mewajibkan bertaqlid bagi seseorang yang bukan Mujtahid Muthlaq, baik betaqlid dalam pendapat maupun fatwanya. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surat An-Nahl ayat 43, yang artinya
“Maka bertanyalah kepaa orang yang memiliki pengetahuan jika kammu tidak mengerti” (QS An-Nahl : 43)
Presented by H. Muhammad Syukron Habiby
Utusan MUI Cisarua
Tidak ada komentar:
Posting Komentar