|
Tgl penyerahan :
07 September 2017
Nama :
C. Bustomi
Utusan :
MUI Kec. Dramaga
Mata Kuliah :
--
Dosen :
--
Jenis Tugas :
Refleksi
Tgl Materi :
30 September 2017
|
Manifestasi Jiwa Yang Merdeka
“Bismillahirrohmanirrohim”
Keadilan itu memang selalu ada jika kita
cermat membaca, sesungguhnya setiap makhluk termasuk manusia selalu memiliki
kelebihan dan kekurangan. Mungkin si fulan memiliki ini tapi belum tentu
memiliki itu. Juga, si fulan lain tidak memiliki ini tapi
memiliki itu. Nah, di sinilah salah-satu cara bagaiaman Alloh
menciptakan keadilan. Meskipun itu, hemat saya keadilan di dunia ini hanyalah
bersifat parsial, kita belum mampu menjamahnya secara sempurna, Sebenar-benarnya
keadilan kita akan mengetahuinya tatkala di akhirat kelak.
Ketidak pahaman terhadap bagaiamna
melihat keadilan, akan berdampak secara psikologis terhadap lahirnya, keluhan
atau ketidak terimaan (ikhlas), bagi saya, bagi setiap orang yang mengeluh
merupakan salah satu indikasi bahwa mereka tidak melihat secara penuh apa yang
ada pada dirinya. Setiap orang memiliki bakat (passion) satu sama lain. Seperti
saya katakana di atas, mungkin anda tidak memiiliki ini tapi pasti
memiliki itu, tinggal bagaiamana kita mengasah “ini” yang kita
miliki menjadi sesuatu yang luar biasa, sehingga kita menjadi ahli di bidang “ini”.
·
Syukur
Salah satu bentuk rasa syukur kita kepada pencipta adalah
dengan memaksimalkan serta menggunakan dengan baik pemberian_Nya. Setiap
manusia sudah di lengkapi dengan kelebihan masing-masing. Salah, jika ada yang
mengatakan: saya tidak memiliki kemampuan apa-apa. Sangatlah tidak adil
jika Alloh tidak menciptakan modal kemampuan kepada manusia untuk menelusuri
lorong-lorong kehidupan yang berliku-liku ini.
Kita beruntung terlahir normal secara fisik, tapi akan
sangat tidak beruntung jika keadaan ini tidak di manfaatkan sebaik-baiknya.
Kita akan terkategori sebagai orang yang tidak bersyukur dengan membiarkan kelebihan
kita tependam dalam diri, kita akan menjadi manusia mubazir yang tidak
melejitkan potensi dalam diri dengan hanya tidak penuh dalam mengasahnya, dan
yang terpenting lagi adalah mengabdikannya untuk kebaikan.
Dalam realita itu, salah satunya adalah seorang yang
sejak kecil cacat secara mental dan fisik, mungkin kebanyakan orang akan
berpikir, dengan keadaan seperti itu mana mungkin dia bisa berprestaasi, malah
yang ada hanya akan merepotkan orang-orang disekitarnya. Tapi anggapan seperti
itu sangalah salah. Sekali lagi, Alloh menciptakan manusia dengan kelebihan
masing-masing. Ternyata di balik fisiknya yang cacat bahkan mentalnya, ternyata
dia memiliki kemampuan yang sangat hebat. Saya yakin masih banyak orang-orang yang
seperti ini dan mereka memilliki kemampuan hebat di bidangnya masing-masing.
·
Hidup tidak sekedar hidup
Nah, bagaimana dengan kita? Sama halnya dengan mereka
yang difabel, kita juga memiliki kemampuan masing-masing, tapi alangkah
meruginya, jika kemampuan itu tidak dilejitkan. Kita memiliki faktor pendukung
lain yakni kenormalan fisik dan juga mental bahkan kelebihan lainnya terutama
mereka yang memiliki kemampuan ekonomi atau lingkungan yang mendukung. Terus
alasan apalagi ?.
Dan setelah kehebatan itu tercapai, bukan berarti misi
selesai. Seorang Ulama besar Buya Hamka pernah berkata: kalau hidup hanya
sekedar hidup babi di hutan jika bisa hidup. Kalau kerja hanya sekedar kerja,
kera juga bisa bekerja. Sebaik-baiknya manusia adalah paling bermanfantaan bagi
sesamanya, sebagai bentuk pengejewantahan cinta dan pengabdian kepada Tuhan.
Mari saling
memotivasi dan mengingatkan
Wallohu A’lam
Bishowab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar